Minggu, Agustus 31, 2025

100 Tahun Kemudian, Mengungkap Pengaruh Walter Spies dan Dilema Pariwisata Bali

Share

PanenTalks, Denpasar – Seratus musim semi berlalu sejak jejak kaki Walter Spies, seorang pelukis berdarah Moskow yang terlahir di tanah Jerman, menyentuh pasir pulau dewata di selatan khatulistiwa.

Takdir membawanya berlabuh, dan Bali, dengan kehangatan tropisnya, mendekapnya sebagai rumah hingga ajal menjemputnya secara tragis di tengah cengkeraman pendudukan Jepang, di usia senja 47 tahun.

Namun, kehadiran Spies di Bali bukan sekadar persinggahan seorang pelancong. Ia menyelami jiwa pulau, melampaui pesona luarnya yang memikat mata. Dengan palet dan kuasnya, ia menorehkan ketenangan Bali ke kanvas dunia, sebuah simfoni visual yang membisikkan kedamaian.

Ia bukan hanya pelukis; gerak tari pun menari di bawah arahannya, rancangan lahir dari visinya, keajaiban alam terabadikan dalam bidikannya, dan narasi budaya tertata apik di bawah kurasinya. Ia adalah mata yang melihat lebih dalam, jiwa yang merasakan denyut nadi seni dan budaya Bali.

Spies bagai pemandu roh, menuntun mata asing menelusuri labirin keindahan Bali. Dengan antusiasme membara, ia berbagi kisah, merajut kata-kata yang menghidupkan tradisi dan kearifan lokal. Lebih dari sekadar pengagum, ia adalah pelindung, merangkul dan turut melestarikan warisan seni leluhur Bali yang luhur.

Jejak Spies terukir abadi, mengangkat nama Bali ke pentas dunia. Ia adalah pionir, meniupkan ruh pariwisata ke pulau ini, membuka gerbang bagi arus pelancong yang tak pernah surut.

Dalam lanskap seni lukis Bali, Pitamaha lahir dari kolaborasi jiwanya dengan Rudolf Bonnet, Tjokorda Gde Agung Sukawati, dan I Gusti Nyoman Lempad. Sebuah gerakan inovatif, sebuah revolusi artistik yang melahirkan gaya baru, yang gaungnya masih terasa hingga kini, melintasi zaman dan generasi.

Di tahun 1930-an, tangan kreatifnya bertemu dengan gerak gemulai penari Bali, Wayan Limbak, melahirkan Tari Kecak. Sebuah metamorfosis ritual Sanghyang, diwarnai dengan epos Ramayana, yang kemudian menari di berbagai panggung, memukau mata di dalam dan luar negeri.

Hati Spies telah tertambat, terpesona oleh keindahan Dewata. Ia melihat potensi seni yang membara dalam jiwa penduduknya. Ia mengadopsi, mengembangkan, memberikan sentuhan baru pada bentuk-bentuk seni lokal. Meski gaya hidupnya menimbulkan tanya di mata kolonial, ia dihormati oleh masyarakat yang ia cintai.

Ketika mata barat mulai tertuju pada Bali, pariwisata seolah lahir bersamaan dengan kehadiran Spies. Ia adalah magnet, menarik tokoh-tokoh dunia seperti Charlie Chaplin dan Vicky Baum, meletakkan batu pertama bagi industri pariwisata modern, dengan segala paradoks dan tantangannya.

Kini, Michael Schindhelm, melalui bukunya Walter Spies – Ein exotisches Leben, membangkitkan kembali memori sang seniman. Dalam pameran “ROOTS” dan film yang menyertainya, Spies seolah kembali, berhadapan dengan realitas Bali masa kini, dengan segala perubahan dan dinamikanya.

Bali kini adalah kanvas yang berbeda, diwarnai oleh pesatnya pembangunan pariwisata. Ruang-ruang terbuka menyempit, kebutuhan akomodasi dan fasilitas pariwisata menggerogoti lanskap, menimbulkan kekhawatiran mendalam.

Melalui film “ROOTS”, Schindhelm menghadirkan Spies sebagai jembatan antara masa lalu dan kini. Ia merajut kisah sang seniman Eropa dengan perkembangan Bali kontemporer, mempertanyakan secara tajam dampak pariwisata, degradasi lingkungan, gejolak sosial budaya, dan luka sejarah yang pernah menganga di pulau ini.

Perjalanan Schindhelm meneliti Spies membawanya bertemu dengan jantung seni Bali. Ia menggandeng Agung Rai, nahkoda Walter Spies Society, dan I Wayan Dibia, murid terakhir Limbak dan penjaga tradisi tari. Bersama para seniman muda seperti Dewa Ayu Eka Putri, Tutangkas Hranmayena Putu, Made Bayak, dan Gus Dark, mereka menelusuri jejak Spies, mencari benang merah antara warisannya dan Bali saat ini.

Bagi Schindhelm, ini adalah penjelajahan sisi terang dan gelap dari warisan budaya bersama, antara keunikan tradisi dan arus modernisasi yang tak terhindarkan.

Kolaborasi ini menjelma menjadi pameran dan film dokumenter fiksi bernama “ROOTS”. Karya Made Bayak dan Gus Dark adalah cerminan pergolakan Bali: pengkhianatan negara, ketahanan spiritual di tengah konsumerisme global, alam yang terancam, dan memori kelam 1965/66. Semua terjalin dalam narasi sinematik tentang kisah Walter Spies di Bali.

Layar akan membentang di berbagai sudut Bali, dari Kulidan Kitchen and Space hingga ARMA, mulai 21 Mei hingga 14 Juni 2025, memutar film “ROOTS”, bagian dari pameran yang sama. Sebuah kompetisi ulasan film bagi para siswa sekolah pun akan meramaikan perhelatan ini.

Popo Danes, arsitek yang setia mengamati denyut perubahan ruang Bali, menyambut hangat pemutaran film ini di Danes Art Veranda.

Baginya, “ROOTS” adalah pengingat akan perjalanan panjang Bali, sebuah evolusi yang patut direnungkan. Di tengah generasi instan, film ini adalah jendela menuju proses, sebuah refleksi yang tak ternilai harganya. (*)

Read more

Local News