Selasa, Desember 16, 2025

BI Bali Dorong Kebijakan Makroprudensial, Biayai Sektor Hijau

Share

PanenTalks, Denpasar – Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Provinsi Bali meluncurkan Bali Green Economy Forum (BGEF) 2025 pada 24 Oktober 2025, sebagai upaya strategis mendorong percepatan transisi ekonomi hijau.

Forum ini memposisikan Bali sebagai “landmark ekonomi berkelanjutan Indonesia” melalui penguatan UMKM hijau, ekowisata, komoditas lokal, dan teknologi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2025 mencapai 5,95 persen.

Namun, ia menekankan kemajuan ekonomi harus sejalan dengan perbaikan kualitas lingkungan, mengingat Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Bali tercatat 71,38 dan adanya isu penurunan kualitas air serta berkurangnya tutupan lahan.”Pertumbuhan ekonomi yang hakiki adalah pertumbuhan yang berdampak, berdaya tahan, dan berkelanjutan,” ujar Erwin.

Untuk mencapai visi ini, BI berkomitmen tidak hanya pada kajian, tetapi juga pada penguatan transmisi pembiayaan hijau. Langkah tersebut diwujudkan melalui kebijakan makroprudensial yang didesain untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif, termasuk sektor-sektor berbasis keberlanjutan.

Fokus strategis BI meliputi pertumbuhan yang menjaga modal alam, peningkatan kualitas hidup melalui pengurangan polusi, dan pariwisata yang selaras dengan lingkungan.Dari sektor ekonomi kreatif (ekraf), Deputi Bidang Pengembangan Strategis Kemenparekraf, Cecep Rukendi, menyoroti ekraf sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Cecep mendesak lembaga keuangan untuk membuka akses pembiayaan yang mengakui nilai Kekayaan Intelektual (KI), melampaui praktik penyaluran dana melalui CSR.Diskusi panel BGEF 2025 merangkum strategi “Green Living Forward” yang inklusif dan berbasis data.

Butet Linda H. Panjaitan, Deputi Kepala Perwakilan BI Bali, menyoroti tantangan concentrated tourism yang memicu disrupsi dan menekankan pentingnya pemerataan destinasi serta pengelolaan kapasitas wisata berbasis digital dan asesmen data.

Sementara itu, Akademisi AI, Bp. Andry Alamsyah, mendorong pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai katalisator inovasi tanpa harus menunggu regulasi yang kaku.Forum ini ditutup dengan apresiasi kepada UMKM berprestasi, termasuk UMKM yang berhasil menembus pasar global dan yang menerapkan prinsip zero waste.

Kegiatan business matching berhasil merealisasikan potensi kredit sebesar Rp100 juta melalui Program KMK KUR Mikro, menegaskan kelayakan usaha hijau untuk mendapatkan dukungan perbankan.

BGEF 2025 diharapkan menjadi rujukan nasional bagi model ekonomi hijau yang pro-stability dan pro-growth.(*)

Read more

Local News