PanenTalks, Jakarta— Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi, menegaskan pentingnya diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sebagai salah satu pilar utama dalam strategi pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Langkah ini menjadi kunci membangun sistem pangan yang berkelanjutan dan tangguh, serta mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai makanan pokok.
“Diversifikasi pangan ini sudah memiliki landasan hukum yang kuat lewat Perpres No. 81 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal,” ujar Arief, Kamis (17/4/2025). “Jika kita manfaatkan produksi dalam negeri dari berbagai wilayah, maka seluruh komponen bangsa ikut terlibat.”
Indonesia, menurut Arief, memiliki kekayaan hayati luar biasa dengan lebih dari 77 jenis pangan sumber karbohidrat tersebar di berbagai daerah. Sayangnya, potensi ini belum dimaksimalkan secara optimal.
“Isi piring tidak harus selalu nasi. Karbohidrat bisa berasal dari singkong, kentang, jagung, sorgum, atau sagu. Bahkan di banyak daerah, sarapan petani adalah singkong rebus, kacang, dan jagung. Sumber karbohidrat dan protein lokal yang murah dan sehat,” tambahnya.
Arief juga mengajak masyarakat untuk kembali pada kearifan pangan lokal yang diwariskan nenek moyang. Ia mencontohkan, masyarakat Papua terbiasa mengonsumsi sagu, Sulawesi Selatan dengan beras jagung, dan warga Wonosobo yang mengandalkan belut sebagai sumber protein tinggi.
Namun, tantangan masih besar. Konsumsi beras nasional mencapai 84 kg per kapita per tahun, sementara singkong hanya 9,5 kg, dan ubi jalar 3 kg per kapita. Ketimpangan ini menjadi bukti bahwa edukasi dan penyediaan alternatif pangan lokal masih sangat diperlukan.
Senada dengan Arief, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan NFA, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa diversifikasi pangan merupakan solusi strategis. “Kita perlu mendorong konsumsi pangan lokal agar sistem pangan nasional lebih beragam, sehat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Andriko juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menghidupkan kembali semangat mengonsumsi pangan lokal sebagai bagian dari kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal.
“Ini bukan hanya soal makanan, tapi juga tentang membangun ketahanan, kemandirian, dan martabat bangsa,” tutupnya.

