Rabu, Desember 10, 2025

Dorong Pertanian Hijau, Program Inovatif Kembangkan Pupuk Organik Lokal

Share

PanenTalks, Sleman – Ketergantungan petani terhadap pupuk kimia memang telah lama menjadi solusi praktis untuk meningkatkan hasil pertanian. Meski mampu memberikan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan NPK, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan justru membawa dampak negatif jangka panjang terhadap kesuburan tanah, pencemaran air, serta risiko kesehatan bagi manusia.

Menjawab tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa dari Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Karang Taruna Permadi 13 di Desa Jamblangan, Kecamatan Seyegan, Sleman. Kolaborasi ini melahirkan program inovatif bertajuk Jamblangan Grow+ (JGrow+), yang fokus pada pengolahan limbah ternak dan sampah rumah tangga menjadi Pupuk Organik Plus (POP) dan biofertilizer.

Tidak hanya memanfaatkan kotoran dan urin hewan, tim juga mengolah limbah rumah tangga serta sisa tembakau untuk memperkaya kualitas pupuk. Kombinasi ini menghasilkan produk pupuk yang mengandung sembilan jenis mikroorganisme bermanfaat untuk tanaman.

“Limbah ternak atau farm waste mengandung unsur yang bermanfaat seperti nitrogen yang terkandung dalam urin dan karbon organik yang ada pada feses. Limbah ternak tersebut memiliki manfaat sebagai nutrisi alami tumbuhan,” ujar Tsabita Afidati selaku ketua tim, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Proses fermentasi diperlukan dalam pembuatan pupuk organik ini. Untuk menghasilkan POP, waktu yang dibutuhkan sekitar satu hingga satu setengah bulan.

Sementara itu, biofertilizer bisa dibuat dalam waktu yang lebih singkat, yaitu antara 10 hingga 14 hari. Tsabita menjelaskan pula cara sederhana untuk menilai kualitas pupuk yang dihasilkan.

“Kelayakan produk dapat diuji dengan memperhatikan warna cairan. Pada produk biofertilizer, perubahan warna dan aroma seperti kecap manis,” ujarnya.

Setelah fermentasi selesai, produk pupuk disimpan dalam wadah tertutup. Gas hasil fermentasi perlu dilepaskan secara berkala, setidaknya setiap dua minggu sekali, demi menjaga mutu dan efektivitas pupuk.

Lebih dari sekadar produksi pupuk, program ini juga memberikan pelatihan kepada warga setempat. Tim membekali masyarakat dengan ilmu seputar pengemasan, strategi pemasaran, hingga manajemen organisasi agar mereka mampu mengelola produk secara mandiri dalam jangka panjang.

“Dengan adanya metode Training of Trial (ToT) dan unggahan video tutorial pengolahan limbah dapat menjadi sarana penyebarluasan pengetahuan yang menjangkau masyarakat luas,” jelasnya.

Melalui pendekatan edukatif seperti ToT dan media digital, pengetahuan ini diharapkan dapat menyebar lebih luas dan mendorong inisiatif serupa di berbagai wilayah.

Tim juga menekankan pentingnya kolaborasi antarwarga, terutama peran pemuda dalam Karang Taruna, untuk menjadikan program ini berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.

“Dengan pemanfaatan potensi lokal dan sumber daya manusia yang memadai, tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi ikut dalam memberdayakan generasi muda sebagai pionir perubahan,” katanya. (*)

Read more

Local News