PanenTalks, Yogyakarta – Delegasi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paramaribo, Suriname pada 16-17 April.
Tim delegasi terdiri dari Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc . selaku Dekan, Dr. Slamet Widiyanto, M.Si. Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, serta Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc . Wakil selaku Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan alumni.
Dalam kunjungan ini, utusan UGM diterima langsung oleh Kuasa Utama KBRI Suriname Sadikin, bersama staf. Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah agenda penting, seperti promosi program beasiswa bagi mahasiswa, guru, dosen dan staf pemerintahan asal Suriname untuk menempuh studi sarjana dan studi di Fakultas Biologi UGM.
“Kita membahas soal peluang kerja sama yang bisa dilakukan terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan SDM,” kata Budi dalam keterangan dikirim ke wartawan, Senin 21 April 2025.
Usai berkunjunng ke KBRI, kata Budi, tim utusan Fakultas Biologi UGM juga berkesempatan bertemu dengan anggota parlemen keturunan Jawa, Moertabat Wanica Sidik.
Ia menyatakan, dukungan penuh atas upaya peningkatan kerja sama yang dapat membantu menyiapkan SDM Suriname, khususnya generasi muda keturunan Indonesia, agar mampu mengisi posisi strategis di pemerintahan maupun sektor lainnya.
“Saat ini, setidaknya ada tiga menteri dan beberapa direktur yang merupakan keturunan Jawa dan di antaranya merupakan alumni UGM,” kata Sidik.
Tidak hanya berkunjung ke anggota parlemen, kata Budi, juga bertemu dengan Menteri Perencanaan dan Lingkungan Republik Suriname Dr. Marciano Dasai yang merupakan alumnus magister dan doktor Teknik Arsitektur UGM.
“Marciano Dasai menjadi bukti, bahwa keturunan Indonesia berkontribusi bagi Suriname dan beliau seorang Keturunan Indonesia yang Jawani,” katanya.
Kunjungan ke Suriname ini menurut Budi diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Suriname. Tak hanya dalam konteks pendidikan, namun juga dalam sektor ekonomi, sosial, dan budaya.
“Kita ingin membuka peluang jejaring internasional dalam mendukung pendidikan berkualitas dan penelitian,” kata Budi.
Seperti diketahui, lebih sejak 135 tahun lalu, masyarakat Jawa pertama kali banyak merantau ke Suriname sebagai tenaga kerja kontrak oleh pemerintah kolonial Belanda. Beberapa dari mereka kembali ke tanah air, namun tidak sedikit memilih menetap di sana.
Saat ini keturunan masyarakat Jawa menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan politik negara tersebut, meskipun banyak di antaranya tidak lagi fasih berbahasa Jawa. Kunjungan utusan UGM ini membawa misi dan semangat membuka ruang kolaborasi tidak hanya dalam bidang pendidikan dan budaya, tetapi juga mencakup sektor ekonomi, industri dan lingkungan hidup.
Di sisi lain, Suriname sendiri juga dikenal sebagai negara dengan emisi karbon rendah dan sebagai negara dengan sebagian besar wilayahnya didominasi hutan.
Bahkan ditemukan adanya satu provinsi yang seluruh wilayahnya merupakan hutan. Tentunya hal ini membuka potensi besar kerja sama di bidang keanekaragaman hayati dan konservasi serta perubahan iklim, termasuk penangkapan CO₂ menjadi kekuatan utama Fakultas Biologi UGM. (*)
Editor : Hendrati Hapsari

