PanenTalks, Yogyakarta – Akal imitasi atau artificial intelligence (AI) kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan generasi Z. Mulai dari membantu tugas kuliah, mencari ide kreatif, hingga sekadar menjadi teman ngobrol, teknologi ini telah menyatu dengan aktivitas harian anak muda.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat, generasi Z menjadi pengguna terbesar AI di Indonesia dengan angka 43,7 persen. Disusul generasi milenial sebesar 22,3 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa AI telah mengubah perilaku generasi muda dalam berinteraksi dengan teknologi.
Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus pemerhati rekayasa perangkat lunak, Prof. Ridi Ferdiana, menilai fenomena ini sebagai hal yang tidak bisa dihindari. Menurutnya, generasi yang lahir di era digital memang tumbuh bersama kemajuan teknologi, termasuk disrupsi besar dari generative AI.
“Generasi Z itu lahir sebagai digital native, sudah dimanjakan teknologi sejak kecil. Generative AI sekarang menjadi bentuk disrupsi terbesar yang mengubah cara berpikir dan hidup mereka,” ujarnya ketika diwawancarai, Kamis, 6 November 2025.
Ridi memperkirakan tren penggunaan artificial intelligence di kalangan anak muda akan terus meningkat. Ia mencontohkan kondisi di lingkungan UGM bahwa sebagian besar mahasiswa telah memanfaatkannya untuk keperluan akademik maupun kegiatan sehari-hari.
“Misal katakanlah UGM, dari 60 ribu mahasiswa, kira-kira 45 ribu sudah memakai teknologi ini. Saya perkirakan pada tahun 2030, adopsinya bisa mencapai 100 persen,” ujarnya.
Menurut Ridi, jika dimanfaatkan dengan benar, artificial intelligence dapat membantu meningkatkan kreativitas dan kualitas belajar generasi muda. Teknologi seperti generative AI bahkan bisa menjadi “teman belajar” yang membantu memahami konsep dengan lebih mendalam.
“Contohnya pada Gemini AI yang memiliki fitur guided learning yang akan mengajari kita dan melakukan deep research, sehingga membantu kita menganalisis jawaban lebih dalam. Tidak sebatas menerima jawaban mentah-mentah,” jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan risiko ketergantungan yang tinggi terhadap AI. Fenomena ini ia sebut sebagai DDA (dikit-dikit AI) kondisi di mana seseorang terlalu sering bergantung pada AI hingga mengalami penurunan kemampuan berpikir dan mengingat.
“Jadi critical thinking dan aspek memorize menurun, makanya yang paling gawat terjadi efek brain rot terjadi karena malas mikir dan dikit-dikit jadi tanya ke AI,” ungkapnya.
Ridi menambahkan, setiap generasi memiliki cara berbeda dalam menyikapi perkembangan teknologi. Generasi X dan baby boomers cenderung memandang akal imitasi hanya sebagai alat bantu kerja, sementara generasi Z sudah menjadikannya bagian integral dari kehidupan.
“Generasi X dan baby boomers saat ini bukan ada di tahap produktif lagi, melainkan ada di tahap lebih banyak bersosialisasi dan berempati. Sehingga penggunaannya hanya sebatas tools saja seperti halnya Microsoft Word atau Excel, namun bagi generasi Z dan Millennial, hal ini sudah menjadi disruption yang mengubah kehidupan,” jelasnya.
Menurutnya, pergeseran besar ini bukan hanya soal perubahan alat, tapi juga pergeseran budaya. Banyak anak muda kini lebih memilih menggunakan AI dibanding mesin pencari untuk mencari jawaban, yang menunjukkan perubahan cara belajar dan berpikir generasi masa kini.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Ridi memperkenalkan konsep ERA (Esensial, Rating, Applicable) sebagai panduan etika dan literasi digital agar generasi muda tidak sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi.
Konsep Esensial berarti tetap mengandalkan buku dan sumber ilmiah dalam mencari pengetahuan dasar. Rating menekankan pentingnya berpikir kritis sebelum bertanya kepada AI, sedangkan Applicable mengarahkan agar AI digunakan sebagai alat bantu setelah dua tahap sebelumnya dipahami.
“Dari situ kita menjadikan generative AI sebatas partner kita, bukan menggantikan peran kita untuk menyelesaikan permasalahan secara penuh. Itulah mengapa pentingnya penerapan konsep ERA ini di dunia digital seperti saat ini,” pungkasnya. (*)

