PanenTalks, Sragen – Teknologi Internet of Things (loT) dapat mendukung swasembada pangan berbasis digital.
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI) Meutya Viada Hafid bersama Bupati Sragen Sigit Pamungkas, melakukan panen melon digital di Green House Kusuma Farm, Desa Jetak, Kecamatan Tanon, belum lama ini.
Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian Panen Tani Digital: Teknologi Tepat untuk Petani oleh Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi.
Menteri Meutya bersama Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah dan para petani Kelompok Tani Maju, melakukan demonstrasi teknologi Internet of Things (IoT), untuk penyiraman dan pemupukan otomatis.
Teknologi ini merupakan bantuan alat digital bagi tanaman pangan dan hortikultura, dari Kementerian Komdigi Tahun Anggaran 2025.
“Pentingnya peran teknologi dalam memperkuat sektor pangan nasional,” kata dia, belum lama ini mengutip laman jatengprov.go.id.
Dia melanjutkan, produksi pangan, distribusi pangan serta pengelolaan air dan energi adalah pilar fundamental kekuatan bangsa. Teknologi harus berdaulat demi menuju kedaulatan pangan.
“Penerapan teknologi digital harus menjangkau hingga pelosok daerah. Dengan teknologi digital, kita bisa mewujudkan semboyan leluhur kita, gemah ripah loh jinawi,” kata dia.
Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah, menjelaskan, program Tani Digital merupakan tindak lanjut kerja sama antara Kementerian Komdigi dan Kementerian Pertanian. Langkah ini untuk mewujudkan swasembada pangan berbasis teknologi.
“Hasil penggunaan teknologi ini menunjukkan dampak signifikan, antara lain penggunaan pupuk lebih efisien, berat melon meningkat, dan harga jual lebih tinggi,” terangnya.
Program yang berlangsung sejak Mei hingga November 2025, menggandeng dua mitra teknologi pertanian, yakni PT Habibi Digital Nusantara dan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa.
CEO Habibi Digital Nusantara, Irsan Rajamin menjelaskan, teknologi IoT memudahkan petani memantau kebutuhan tanaman secara digital.
“Sensor dapat mendeteksi kebutuhan tanaman. Penyiraman bisa dari mana saja dan kapan saja,” jelasnya.
Dengan lahan seluas 600meter persegi dan 1.000 pohon melon, petani Kusuma Farm mampu panen empat kali setahun. Omzet mencapai Rp40–50 juta. (*)

