PanenTalks, Sleman – Inovasi baru di Sekolah Rakyat dalam penggunaan kartu pintar. Kini, siswa bisa menggunakan kartu akses digital itu tidak hanya untuk alat absensi, tetapi juga merekam aktivitas dan pergerakan siswa selama di lingkungan sekolah.
Kartu pintar ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan sistem pengawasan dan keterbukaan informasi kepada orang tua. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan hal itu saat meninjau proses pembelajaran di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Purwomartani, Kalasan, Sleman.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul menjelaskan secara rinci bagaimana teknologi ini bekerja di lingkungan sekolah.
“Ada kartu untuk absen dan mengikuti aktivitas siswa. Jadi saat dia di kelas, di kamar atau saat makan, siswa tetap dalam pantauan. Begitu pula dia lagi shalat atau lagi di mana, kita bisa tahu keberadaannya,” kata Gus Ipul saat berbincang santai dengan para siswa di kelas.
Pantau Keberadaan Siswa
Teknologi ini bekerja melalui sistem tap-in. Setiap siswa menempelkan kartu akses mereka ketika memasuki ruangan atau mengikuti aktivitas tertentu. Data dari kartu akan langsung terekam oleh sistem yang ada di seluruh titik aktivitas sekolah.
Menurut Gus Ipul, sistem ini tidak hanya membantu pihak sekolah dalam mencatat kehadiran dan aktivitas siswa. Ini memungkinkan orang tua memantau keberadaan anak mereka secara real-time.
“Itu akan langsung diketahui oleh pihak sekolah dan orang tua karena tersambung. Jadi orangtua kalian di rumah juga tahu anaknya ada di mana atau sedang belajar atau mungkin lagi makan,” ucap Gus Ipul.
Dalam kunjungannya ke SRMA 20, Gus Ipul menyambangi tiga kelas dengan total siswa sebanyak 75 anak. Para siswa tersebut berasal dari keluarga miskin ekstrem yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di DIY.
Ia juga menegaskan bahwa penerimaan siswa di Sekolah Rakyat tidak dilakukan secara terbuka, melainkan melalui sistem seleksi berbasis data.
“Saya juga ingin sampaikan dulu, Sekolah Rakyat ini tidak ada pembukaan pendaftaran, yang ada melalui DTSEN dan tim yang mengunjungi keluarga siswa. Setelah itu koordinasi dengan pemerintah daerah,” ujarnya.
“Bila memenuhi syarat karena datanya sama, lalu diskusi dengan orang tua. Kalau orang tua bersedia, maka tim akan menindaklanjuti. Tetapi bila orang tua tidak bersedia, tentu tidak akan berlanjut,” tutur Gus Ipul.
Menerima Masukan Siswa
Tidak hanya di Sleman, Gus Ipul juga melakukan peninjauan di Sekolah Rakyat Menengah Atas 19 di Sonosewu, Kasihan, Bantul. Bertemu dengan siswa, Mensos tak segan mendengarkan langsung sejumlah masukan dari para siswa. Di antaranya kondisi asrama, seperti permasalahan aliran air dan kurangnya perlengkapan tidur.
“Mereka memberikan catatan, di antaranya air kadang mampat atau aliran air masih kurang . Selain itu ada yang sprei masih kurang. Sekolah bisa mengatasinya,” ujar dia.
Kendati masih terdapat kekurangan di masa awal operasional, Gus Ipul menyatakan bahwa para siswa secara umum merasa nyaman dengan suasana dan fasilitas yang disediakan.
“Meski dalam masa-masa awal ini ada kekurangan-kekurangan, secara umum murid merasa nyaman,” katanya.
Ada harapan langkah digitalisasi Sekolah Rakyat bisa memperkuat sistem pendidikan berbasis pengawasan dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak, tanpa mengurangi kenyamanan dalam proses belajar.
Pemerintah pun menilai, terobosan ini sebagai bentuk nyata hadirnya negara dalam menjamin pendidikan berkualitas dan inklusif untuk kelompok rentan. (*)

