Rabu, Desember 10, 2025

Kasus Flu Naik, Pakar IPB Ajak Masyarakat Waspada Perubahan Iklim dan Rutin Vaksinasi

Share

PanenTalks, Bogor – Dalam beberapa minggu terakhir, kasus influenza atau flu mengalami peningkatan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Bogor. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tren serupa terjadi di tingkat global.

Pakar kesehatan pernapasan IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), mengingatkan pentingnya vaksinasi influenza dan kesadaran terhadap kondisi lingkungan sebagai langkah utama dalam menghadapi lonjakan kasus tersebut.

Menurutnya, peningkatan kasus flu tidak hanya disebabkan oleh faktor kesehatan individu, tetapi juga oleh perubahan lingkungan dan iklim. Data menunjukkan suhu udara rata-rata di Indonesia pada September 2025 mencapai 26,91°C, sedikit lebih tinggi dari rata-rata klimatologis 26,56°C.

“Anomali suhu ini merupakan yang tertinggi ketujuh sejak 1981 dan berpotensi meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap infeksi saluran pernapasan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fluktuasi suhu diurnal atau perbedaan suhu antara siang dan malam hari kini semakin besar, dengan variasi per jam mencapai 4–5°C. “Misalnya, saat ini jam 12 siang suhu bisa mencapai 37°C, lalu satu jam kemudian turun menjadi sekitar 32,5°C. Jadi tiap jam suhu udara bisa berubah-ubah,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat sistem pertahanan saluran pernapasan menurun, sehingga virus influenza lebih mudah masuk dan menginfeksi tubuh. “Perbedaan suhu yang ekstrem antara siang dan malam hari dapat menurunkan imunitas lokal saluran napas. Saat tubuh belum sempat beradaptasi dengan perubahan suhu yang cepat, risiko terinfeksi virus influenza meningkat,” paparnya.

Selain suhu, faktor lingkungan lain seperti urbanisasi dan polusi udara turut memperburuk penyebaran penyakit. Peningkatan jumlah bangunan dan berkurangnya ruang hijau menyebabkan suhu mikro di daerah padat penduduk meningkat. Pada saat yang sama, polutan seperti aerosol menurunkan kualitas udara dan memperlemah daya tahan tubuh, mempercepat penyebaran virus influenza tipe A dan B yang menjadi penyebab utama wabah musiman.

“Perubahan suhu dan kelembapan dapat memengaruhi stabilitas virus di udara. Udara kering atau dingin menurunkan efektivitas sistem pertahanan mukosa saluran napas, sehingga seseorang lebih mudah tertular,” jelasnya.

Dr Desdiani menegaskan, vaksinasi influenza tahunan menjadi langkah penting untuk mencegah kasus berat dan komplikasi. “Vaksinasi terbukti efektif menurunkan risiko rawat inap, pneumonia, dan kematian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis atau imun lemah,” tegasnya.

Meskipun efektivitas vaksin dapat menurun pada usia lanjut, manfaatnya tetap signifikan dalam mengurangi tingkat keparahan penyakit. “Vaksin bukan hanya melindungi individu, tetapi juga membantu membangun kekebalan komunitas, sehingga dapat menekan potensi wabah luas,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk etika batuk, penggunaan masker saat sakit, serta menjaga kebersihan udara dan lingkungan. “Perubahan iklim dan penurunan kualitas udara bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan publik. Karena itu, mitigasi lingkungan harus menjadi bagian dari strategi pencegahan penyakit menular,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Dr Desdiani menekankan bahwa vaksinasi influenza dan kesadaran lingkungan harus berjalan beriringan. “Di tengah kondisi iklim yang semakin ekstrem, dua hal ini menjadi kunci utama untuk menjaga daya tahan masyarakat dan mencegah wabah besar,” pungkasnya.

Read more

Local News