Rabu, Desember 10, 2025

Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Vokasi Jadi Pelopor Inovasi Pangan

Share

PanenTalks, Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi vokasi dalam memberikan solusi terhadap berbagai tantangan masyarakat, termasuk dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Perguruan tinggi vokasi dinilai memiliki keunggulan dalam mengembangkan inovasi yang langsung dapat diterapkan di lapangan.

Salah satu bentuk nyata dari peran tersebut terlihat melalui penyelenggaraan Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025 yang digelar di Semarang pada Kamis (6/11) lalu. Kegiatan ini diinisiasi oleh Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Tengah dengan mengusung tema “Panggung Inovasi: Teknologi Tepat Guna dan Sinergi Multipihak untuk Masa Depan Berkelanjutan.”

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (9/11), menyampaikan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi, tetapi juga pada kemampuan untuk berinovasi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat sebagai kunci mencapai kedaulatan pangan nasional.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa hilirisasi riset dan kemitraan pendanaan antara kampus dan industri daerah harus diperkuat. Menurutnya, hasil penelitian tidak seharusnya berhenti di publikasi ilmiah, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Brian menambahkan bahwa langkah tersebut sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu menempatkan inovasi dan kedaulatan pangan sebagai bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional. Ia juga mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal serta memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Dengan teknologi tepat guna dan kolaborasi yang kuat, desa bukan hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan berkelanjutan,” ujar Brian.

Ketua Konsorsium PTV Jawa Tengah, Kurnianingsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan ekosistem kemitraan dalam pengembangan inovasi berbasis potensi daerah. Hasilnya berupa produk hilirisasi riset yang telah dimanfaatkan oleh berbagai industri dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Perguruan tinggi vokasi berperan penting dalam memastikan inovasi teknologi tepat guna dapat langsung diterapkan oleh masyarakat. Kami tidak berhenti di riset, tetapi juga mendampingi desa agar hasil inovasi dapat dikembangkan secara mandiri,” ungkapnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah tahun 2023 menunjukkan bahwa 42,01 persen petani di wilayah tersebut berusia di atas 43 tahun. Sementara itu, petani milenial hanya mencapai 18,78 persen dan petani generasi Z sebanyak 0,96 persen. Selain itu, pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian masih di bawah 20 persen dari total pelaku usaha tani.

Dalam laporan yang sama, jumlah usaha pertanian di Jawa Tengah pada 2023 tercatat sebanyak 4.366.317 unit, turun 13,21 persen dibandingkan 10 tahun sebelumnya yang mencapai 5.031.033 unit. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam regenerasi petani, peningkatan penguasaan teknologi, serta transformasi sistem pertanian agar lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Read more

Local News