Rabu, Desember 10, 2025

Konservasi dan Sejarah Maritim di Festival Bahari ‘Jaladhi Vistara’

Share

PanenTalks, Buleleng — Festival Bahari “Jaladhi Vistara” 2025 resmi dibuka Gubernur Bali Wayan Koster di Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, pada Sabtu (25/10).

Acara ini menandai momentum kebangkitan ekologi dan ekonomi pesisir Bali Utara dengan fokus utama pada pelestarian laut, literasi maritim, dan pemberdayaan sumber daya lokal.

Festival dihadiri ratusan pegiat lingkungan, akademisi, dan masyarakat pesisir ini bertepatan dengan perayaan Tumpek Wariga, hari suci untuk memuliakan tumbuh-tumbuhan dan seluruh sumber kehidupan.

Aksi Konservasi Nyata: Penenggelaman 5.600 Bibit KarangSebagai inti dari kegiatan pelestarian, sebanyak 5.600 bibit terumbu karang secara simbolis ditenggelamkan di perairan Bondalem. Aksi ini merupakan kelanjutan dari gerakan konservasi laut yang telah dirintis masyarakat Bondalem sejak tahun 2007.

Penggagas Festival, Ngurah Paramartha, menjelaskan, upaya panjang ini telah membawa Bondalem meraih penghargaan internasional dari Reef Check International pada 2014.

“Langkah kecil ini dampaknya luar biasa bagi keberlanjutan alam dan ekonomi rakyat,” tegas Gubernur Koster saat menyaksikan aksi tersebut.

Dalam sambutannya, Gubernur Koster menekankan peran strategis Buleleng dengan garis pantai terpanjang di Bali.

Ia menegaskan, potensi laut, termasuk ikan, terumbu karang, dan garam, harus dioptimalkan menjadi sumber kesejahteraan rakyat, bukan sekadar objek wisata.Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan ekonomi garam lokal Bali.

Setelah terpinggirkan, garam tradisional Les, Tejakula, hingga Amed kini telah dinyatakan aman edar dan bahkan telah diekspor ke Jepang. Pemerintah Provinsi Bali juga telah menerbitkan SE Gubernur (Nomor 17 Tahun 2021) untuk memprioritaskan konsumsi garam lokal di hotel, restoran, dan pasar ritel.

Sementara itu, Paramartha menyoroti aspek sejarah, di mana Bondalem disebut sebagai jejak maritim tua. Penemuan ratusan fragmen keramik abad ke-4 Masehi membuktikan bahwa pesisir Bali Utara telah menjadi pusat perdagangan laut ribuan tahun silam.

Festival Jaladhi Vistara menjadi puncak dari Gerakan Literasi Maritim Bondalem, yang berfokus pada:

Literasi Budaya: Melibatkan seniman untuk menafsirkan laut melalui karya seni. Literasi Ekologi: Bekerja sama dengan ahli konservasi nasional.

  • Literasi Sejarah: Menggali warisan peradaban pesisir.Festival ini menjadi simbol harmoni antara pelestarian lingkungan, sejarah, dan ekonomi rakyat, dengan pesan penutup dari Gubernur Koster: “Bali akan tetap kuat jika alamnya lestari. (*)

Read more

Local News