Selasa, Desember 16, 2025

Kontribusi Industri Agro Capai 52% dari PDB Nonmigas

Share

PanenTalk, Jakarta — Industri agro terus memperkuat perannya sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional. Sektor ini tidak hanya berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB), tetapi juga membuka jutaan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan, pada semester I tahun 2025, sektor industri agro mencatat kontribusi sebesar 52,07 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas dan 8,96 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,99 persen.

“Dari sisi ekspor, nilai perdagangan luar negeri sektor ini menembus USD37,38 miliar dan mencatat surplus neraca dagang sebesar USD26,96 miliar. Ini menunjukkan daya tahan dan daya saing industri agro Indonesia di pasar global,” ujar Agus di Jakarta, Rabu (30/10).

Selain itu, sektor industri agro juga menjadi magnet investasi. Realisasi investasi sepanjang semester I-2025 mencapai Rp85,05 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 9,8 juta orang atau setara 50,26 persen dari total pekerja industri pengolahan nonmigas.

“Data ini membuktikan bahwa industri agro bukan hanya motor pertumbuhan, tetapi juga pilar pemerataan ekonomi nasional,” imbuhnya.

Menperin menjelaskan, pencapaian positif tersebut sejalan dengan arah pembangunan ekonomi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka melalui percepatan industrialisasi berbasis nilai tambah.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian tengah menerapkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN), yakni kerangka komprehensif yang memperkuat sistem industri nasional dari hulu ke hilir.

Melalui SBIN, pemerintah mendorong integrasi rantai pasok, jaminan ketersediaan bahan baku, peningkatan efisiensi produksi, dan pemanfaatan teknologi industri 4.0. “Pendekatan industrialisasi sektor agro diarahkan untuk memperkuat hilirisasi berbasis sumber daya alam, seperti kakao, sagu, rumput laut, dan kopra menjadi produk turunan bernilai tinggi,” jelas Agus.

Kemenperin juga memperkuat kemitraan antara pelaku industri, koperasi, dan petani untuk menjamin pasokan bahan baku yang berkelanjutan, sekaligus menerapkan prinsip industri hijau melalui efisiensi energi dan sertifikasi keberlanjutan seperti Rainforest Alliance, UTZ, dan Organic Certification.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan, Indonesia kini diakui sebagai kekuatan besar dunia di sektor agro. Negara ini merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 51 juta ton per tahun.

Sementara industri berbasis karet menempati posisi kedua terbesar di dunia, dan produksi rumput laut Indonesia berada di urutan ketiga dunia. Komoditas lain seperti kayu, rotan, dan minyak atsiri juga menempatkan Indonesia di jajaran pemasok global penting untuk industri flavor, fragrance, dan wellness.

“Industri agro Indonesia bukan hanya tulang punggung ekonomi nasional, tetapi juga lokomotif utama peningkatan daya saing ekspor berbasis sumber daya alam terbarukan,” ungkap Putu.

Dalam rangka memperkuat promosi dan jejaring industri, Kemenperin menggelar Pameran Industri Agro 2025 di Plasa Pameran Industri Gedung Kemenperin, Jakarta, pada 28–31 Oktober 2025. Acara ini diikuti oleh 65 peserta, mulai dari industri menengah-besar hingga usaha kecil berbasis agro.

Pameran bertema “Agro Industri Maju, Ekonomi Tumbuh Tangguh” ini menampilkan berbagai produk unggulan seperti turunan sawit, rumput laut, kopi, teh, cokelat, hingga produk olahan kertas dan minyak atsiri.

“Pameran ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi industri, akademisi, dan masyarakat menuju kemandirian industri nasional dan Indonesia Emas 2045,” tutur Putu.

Read more

Local News