Jumat, Agustus 29, 2025

Kotoran Sapi Jadi Pupuk, Petani Bangli Tingkatkan Hasil

Share

PanenTalk, Bangli– Kotoran sapi, yang sering dianggap sebagai limbah, ternyata memiliki potensi besar sebagai pupuk organik berkualitas. Inilah yang kini tengah digalakkan di kalangan petani di Kabupaten Bangli.

Dengan mengolah limbah ternak menjadi pupuk kompos, petani dapat memperoleh berbagai manfaat signifikan, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

Diungkapkan akademisi Universitas Warmadewa, Dr Nengah Muliarta, penggunaan pupuk dari kotoran sapi menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan pupuk kimia.

Berikut adalah beberapa manfaat utama yang dapat diperoleh petani:

Meningkatkan Kesuburan Tanah

“Pupuk organik dari kotoran sapi kaya akan bahan organik yang esensial untuk kesehatan tanah,” ungkapnya dalam keterangan tertulis.

Bahan organik ini membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah dalam menahan air, serta menyediakan nutrisi makro dan mikro bagi tanaman secara alami dan berkelanjutan.

Berbeda dengan pupuk kimia yang cenderung membuat tanah keras dan mati, pupuk organik justru menyuburkan ekosistem mikroba di dalam tanah.

Mengurangi Ketergantungan pada Pupuk Kimia

Harga pupuk kimia sering kali fluktuatif dan membebani biaya produksi petani. Dengan memproduksi pupuk sendiri dari kotoran sapi, petani bisa menghemat pengeluaran secara signifikan. Ketersediaan bahan baku yang melimpah di wilayah peternakan juga memastikan pasokan pupuk yang stabil dan tidak terpengaruh oleh kondisi pasar.

Membuka Peluang Ekonomi Baru

Limbah kotoran sapi yang diolah menjadi pupuk kompos memiliki nilai jual. Bagi petani yang memiliki ternak, ini menjadi sumber penghasilan tambahan. Produk kompos yang dikemas dengan baik bisa dipasarkan ke petani lain atau ke sektor agribisnis.

Hal ini menjadikan peternakan tidak hanya sebagai sumber daging atau susu, tetapi juga sebagai industri penghasil pupuk organik.

Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Mengolah kotoran sapi menjadi pupuk adalah langkah nyata menuju pertanian sirkular dan ramah lingkungan. Proses ini membantu mengurangi polusi udara dari tumpukan kotoran yang membusuk, serta mencegah pencemaran air.

Dengan demikian, petani tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi juga turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk jangka panjang.

Melalui program-program pembinaan seperti yang dijalankan oleh Universitas Warmadewa di Bangli, petani kini lebih memahami cara pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk kompos yang efektif. Inisiatif ini membuktikan pertanian tidak harus merusak lingkungan, melainkan bisa berkembang seiring dengan upaya menjaga alam. (*)

Read more

Local News