PanenTalks, Sleman – Krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, dan ancaman teknologi digital terhadap tatanan sosial menjadi tantangan serius yang dihadapi dunia. Kondisi tersebut menuntut pendekatan ilmu pengetahuan yang tidak hanya rasional, tetapi juga melibatkan aspek emosional dan kemanusiaan dalam memahami perubahan zaman.
Isu itu menjadi sorotan utama dalam The 13th International Graduate Students and Scholars’ Conference in Indonesia (IGSSCI) yang digelar di Ruang Seminar Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Rabu, 5 November 2025. Konferensi internasional ini menghadirkan sejumlah akademisi lintas negara seperti Dosen Prodi CRCS SPs UGM Prof. Frans Wijsen, Sosiolog dari University of London Prof. Mike Featherstone, Guru Besar Departemen Hubungan Internasional UGM Prof. Dr. M. Mohtar Mas’oed, akademisi dari Shizuoka University Jepang Prof. Takenouchi Hirobumi, dan akademisi dari George Mason University Dr. Soonjung Kwon.
Prof. Frans Wijsen menyoroti bahwa krisis ekologis di Indonesia tidak hanya berdampak lokal tetapi juga berimbas secara global. Ia menyebut pencemaran air, udara, dan tanah, kebakaran hutan, pertambangan, serta penggunaan pupuk dan pestisida berlebihan sebagai penyebab utama degradasi lingkungan.
Deforestasi besar-besaran untuk perkebunan juga mempercepat perubahan iklim, sementara limbah plastik Indonesia menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut.
“Kearifan lokal sesungguhnya dapat menjadi jawaban, meskipun perlu banyak penyesuaian,” kata Frans.
Sementara Prof. Mike Featherstone menilai, penyelesaian krisis lingkungan dan upaya memperkuat ketahanan sosial global membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi.
“Untuk mengatasi krisis lingkungan dan memperkuat ketahanan sosial ini menciptakan perdamaian global dibutuhkan keterlibatan empati dan refleksi dalam menganalisis perubahan zaman,” ujarnya.
Prof. Mohtar Mas’oed kemudian menyoroti pentingnya kolaborasi masyarakat sipil dalam pembangunan sosial. Ia mencontohkan organisasi Gita Pertiwi di Surakarta yang menangani penyalahgunaan pestisida melalui edukasi petani, pelaporan publik berbasis teknologi digital, serta kerja sama dengan jaringan nasional dan internasional.
Ia juga mengangkat peran Rifka Annisa di Yogyakarta dalam menangani kekerasan berbasis gender. “Pembangunan perdamaian harus menekankan keadilan sosial,” tegasnya.
Dari perspektif pendidikan, Dr. Soonjung Kwon menyoroti trauma kolektif yang masih membayangi masyarakat Korea akibat perang dan kolonialisme.
Menurutnya, pendidikan dapat menjadi ruang pemulihan sosial. “Pendidikan berperan sebagai ruang dialog untuk mengatasi perbedaan perspektif dan membicarakan isu perdamaian bagi guru dan siswa,” katanya.
Sementara Prof. Takenouchi Hirobumi berbagi pengalaman membangun komunitas yang berlandaskan rasa syukur dan kepedulian di kota kecil Matsuzaki, Jepang.
“Populasinya lima ribu penduduk dan saya membentuk asosiasi bernama Compassion and Dialogue,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya membangun masyarakat yang mampu menerima kehilangan dan kematian dengan empati.
Konferensi IGSSCI ke-13 ini menjadi ajang bertukar gagasan dan memperkuat jejaring akademik internasional. Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof. Siti Malkhamah, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi lebih dari seratus peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai negara. Ia menyebut, forum ini mencerminkan komitmen SPs UGM dalam memperkuat visi global yang berpijak pada nilai-nilai lokal. (*)

