PanenTalks, Yogyakarta – Pada Human Capital Index dalam kaitannya membangun sumber daya manusia, angka kematian ibu juga menjadi hal penting. Pemerintah Kota Yogyakarta menjadi rujukan The World Bank dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI).
“Kami sangat serius bagaimana mencegah kematian ibu dan bisa mencapai zero maternal rate. Dengan meningkatkan pelayanan secara teknis maupun medis dalam penguatan upaya preventif khususnya menekan penurunan unmet need KB dan unwanted pregnancy,” kata Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat menerima kunjungan dari The World Bank, Rabu (30/4) di Balai Kota.
Hasto menjelaskan kematian ibu dulu banyak terjadi di hulu atau pre health care, sementara sekarang bergeser 80 persen terjadi di Rumah Sakit. Sehingga respond time dokter dan pelayanannya harus didorong agar lebih cepat.

Dengan program Quick Wins Satu Kampung Satu Bidan atau Nakes, Pemkot Yogya berharap bisa terus menekan AKI.
Jumlah kasus kematian ibu di Kota Yogyakarta tercatat pada tahun 2021 sejumlah 16 per 2.757 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 4 per 2.499 di tahun 2022, sementara di tahun 2023 nol kasus dari 2.427 kelahiran hidup, serta dari 2.148 kelahiran hidup terdapat 2 kasus kematian ibu.
Public Sector Specialist The World Bank, Romawaty Sinaga mengatakan, AKI di Kota Yogyakarta yang rendah harapannya bisa menjadi rujukan bagi daerah lain di Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi atas wawasan yang hari ini kami dapatkan, termasuk soal bagaimana membaca dan menggunakan data, karena yang ingin kita dorong juga soal memperkuat dan memastikan data dipakai oleh pemerintah ketika membuat perencanaan,” katanya.
Ketika AKI sudah tertangani dengan baik, lanjut Roma, pihaknya berharap Pemkot juga akan melakukan penguatan pada sektor lain seperti halnya soal ketimpangan gender di Kota Yogyakarta. (*)
Editor: Rahmat

