PanenTalks, Yogyakarta – Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (PIM) melantik kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PIM DIY. Kepengurusan baru saja terbentuk ini diharapkan dapat menjadi pionir bagi perempuan khususnya di Yogyakarta agar dapat semakin mandiri dan berdaya.
Ketua Umum PIM, Lana T. Koentjoro tak menampik dibentuknya kepengurusan ini mengingat perlunya pengembangan organisasi PIM untuk memujudkan visi dan misi organisasi PIM.
Kata dia, perempuan Indonesia didorong mampu memberi kontribusi positif, baik di tengah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Itu juga menjadi makna dari perjuangan Raden Ajeng Kartini.
“Perempuan Indonesia Maju adalah pemberdayaan perempuan yang difokuskan pada bidangnya masing-masing seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Yang dilakukan kami selama ini bekerja sama dengan pemerintah. Dengan dilantiknya tim di DIY diharapkan bisa kerja sama dan kolaborasi dengan pemerintah setempat dan organisasi lain,” kata Lana, Rabu 23 April 2025.
Menurutnya, perjuangan dilakukan Kartini menjadi inspirasi, khususnya bagi perempuan di masa kini. Lana berharap, dengan banyaknya pengurus dari DPP, DPD dan DPC akan semakin menambah program-program PIM akan dikonkritkan nantinya di daerah masing-masing.
“Mudad-mudahan ke depan, semua program-program yang di-share juga bisa dijalankan dengan baik di DPD dan DPC. Program-program kami seperti yang kami sampaikan ada banyak, di bidang kesehatan kita sudah kerjasama dengan rumah sakit dan juga pendidikan kita juga sudah mengadakan kerjasama dengan salah satu universitas di Jakarta, itu keliling untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak muda, kemudian ekonomi kita bekerja sama dengan Bank Indonesia dan OJK dan lain sebagainya,” terangnya.
Sementara itu, Ketua DPD PIM DIY terlantik, Diyah Yuliana Kentjanawatty menyampaikan, perempuan memiliki peran penting dalam membangun kreatifitas, prosperity (kemakmuran) dan kebudayaan.
Dia sepakat, perempuan harus berperan aktif menjadi agen perubahan, mempromosikan kesetaraan gender, dan memberdayakan perempuan untuk mencapai potensinya masing-masing.
Terlebih pada kondisi saat ini di mana tantangan yang dihadapi perempuan sangat komplek dan multidimensional, mulai kesetaraan gender, kesenjangan upah, beban dan tanggung jawab ganda antara profesi dan kewajiban dalam rumah tangga, kekerasan berbasis gender dan sebagainya
“Kita harus menjadi suara bagi perempuan yang tidak memiliki kesempatan, menjadi pendukung bagi perempuan yang ingin maju, dan menjadi contoh bagi perempuan yang ingin menjadi lebih baik. Dengan peran aktif perempuan, kita dapat membangun Indonesia yang lebih kuat, lebih kreatif, dan lebih sejahtera,” kata Diyah.
Kreativitas perempuan dapat menjadi sumber inovasi dan kemajuan bagi bangsa, prosperity perempuan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sedangkan kebudayaan perempuan dapat menjadi identitas dan kekuatan bagi bangsa.
“Dengan DPC DPC yang sudah ada insyallah kita akan membuat berbagai program, yang terdekat adalah ruang bersama,” ujarnya.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X diwakilkan Asisten Bidang Pemderdayaan Sumber Daya Manusia Setda DIY, Sugeng Purwanto menyampaikan, perempuan Indonesia memiliki peran sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa. Tak hanya sebagai penjaga harmoni dalam keluarga dan masyarakat, perempuan memiliki peran sebagai motor penggerak kemajuan di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik, dan budaya.
Oleh karena itu, dia mendorong kapasitas dan kompetensi perempuan perlu diperkuat agar semakin berdaya dan mampu menjadi agen perubahan.
Melalui peningkatan akses pendidikan, pelatihan, dan kepemimpinan, semua pihak perlu mendorong lahirnya perempuan-perempuan Indonesia tak hanya cerdas dan terampil, melainkan juga mandiri, percaya diri, serta siap mengambil peran strategis dalam proses pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan.
“Maka, peran PIM menjadi sangat strategis sebagai mitra pemerintah dan masyarakat. Saya berharap organisasi ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi dan advokasi, tetapi juga pusat pengembangan kapasitas dan inovasi guna mewujudkan perempuan Indonesia yang semakin tangguh dan mandiri untuk Indonesia yang lebih maju,” terangnya, Rabu (23/4).
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo berharap kegiatan-kegiatan PIM DIY langsung menyentuh masyarakat dengan aktif menyambangi perempuan membutuhkan seperti janda dan lansia tinggal di pinggiran sungai dan rel kereta api.
Ia menyebut, ada sekitar 1.600 lansia perempuan tidak bisa beraktivitas karena kondisi kesehatan. Melihat hal tersebut, menurutnya kaum perempuan harus terus diberdayakan agar bisa produktif dan tidak menjadi beban bagi generasi berikutnya.
“Dalam membuat organisasi perhatian fokusnya pada yang lemah, untuk memajukan perempuan-perempuan utamakan yang lemah. Saya titip ke PIM DIY, tolong perempuan yang lemah ini jadi perhatian utama. Jangan menyakiti yang miskin dengan pesta-pesta, ingatlah perempuan-perempuan yang menderita,” ujar Hasto. (*)
Editor : Hendrati Hapsari

