Sabtu, Desember 13, 2025

Limbah Rumah Tangga Ini Dapat Berikan Kontribusi Menuju Transisi Energi Hijau

Share

PanenTalks, Jakarta – Limbah rumah tangga, minyak jelantah, dikelola dengan baik dapat memberikan kontribusi terhadap transisi menuju energi hijau.

Minyak jelantah sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) juga dapat membuka peluang ekonomi baik tingkat lokal maupun global.

“Industri penerbangan global sendiri telah menetapkan target netral karbon pada tahun 2050, yakni sebesar 21,2 gigaton. Salah satu strategi ditempuh untuk mencapai target tersebut adalah beralih dari bahan bakar fosil yaitu aftur, ke bahan bakar lebih ramah lingkungan dan terbarukan dikembangkan melalui Sustainable Aviation Fuel (SAF),” ungkap Arif, di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) dengan tema ‘Sustainable Used Cooking Oil Supply Chain for Sustainable Aviation Fuel (SAF): Technological Innovation, Social Synergy, and LCA Analysis’, secara luring maupun daring, belum lama ini.

Dikutip dari brin.go,id, hasil kajian dari Life Cycle Assessment (LCA) memberikan dasar ilmiah untuk mengambil keputusan. Meliputi terkait pengembangan kebijakan, investasi dan inovasi teknologi dalam produksi SAF efektif menuju masa depan lebih ramah lingkungan.

“Pentingnya keberlanjutan dalam produksi SAF guna mengurangi emisi gas rumah kaca, menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil, mendorong ekonomi sirkular, menekan polusi udara lokal, mendukung pembangunan berkelanjutan, serta memenuhi regulasi dan tuntutan pasar,” kata dia.

PT Noovoleum Indonesia Investama Philippe Micone memberikan, contoh studi kasus kotak penampung minyak jelantah bermerek Pertamina merupakan inisiatif dari Pertamina Patra Niaga dan dimulai pada 21 Desember 2024. Saat ini, inisiatif tersebut telah berhasil diterapkan di sembilan lokasi, dengan target mencapai 300 lokasi pada akhir tahun ini.

Philippe menjelaskan, kerja sama dengan Pertamina berjalan cukup sukses karena masyarakat memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap perusahaan tersebut, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyetorkan minyak jelantah melalui kotak-kotak bermerek telah ditempatkan di lokasi strategis.

Rata-rata, setiap kotak mampu mengumpulkan lebih dari satu ton minyak goreng bekas per bulan, sebagian besar berasal dari produsen kecil. Selain itu, integrasi aplikasi ke dalam MyPertamina memberikan pengalaman mudah, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat karena prosesnya langsung antara individu dan mesin.

“Kami akan bekerja sama dengan BRIN untuk menjangkau masyarakat, meningkatkan kesadaran, memotivasi mereka agar datang. Kami akan mendaur ulang minyak yang mereka miliki, serta menghitung berapa banyak emisi COâ‚‚ yang berhasil kita kurangi dari kegiatan ini,” ujar Philippe.

Oki Muraza dari PT Pertamina (Persero) mengatakan, Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia, sehingga memiliki potensi UCO turunan sawit besar. Populasi dan budaya kuliner Indonesia, dengan populasi 276 juta dan tradisi makan gorengan kuat menghasilkan UCO dalam volume tinggi dari rumah tangga, restoran dan industri makanan.

“Kita perlu memiliki ekosistem yang terintegrasi di Indonesia, mulai dari pengadaan bahan bakunya, kemudian kemampuan kita untuk memproduksi di kilang terbaru. Perlu membangun New Energy Integrated Terminal (NIT) Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia agar kita bisa memiliki kemampuan ekspor. Kita sedang merencanakan untuk menyuplai ke bandara Denpasar dan Cengkareng, harapannya nanti kita bersama dengan Pelita Airllines, Garuda, dan maskapai lainnya untuk dapat membuat ekosistem SAF di tanah air,” jelasnya.

Selanjutnya Matias Tumanggor dari Asosiasi Pengumpul Minyak Jelantah (APJETI) mengharapkan, ada regulasi harga dari pemerintah agar ada ketetapan harga bagi para pengumpul minyak jelantah secara langsung kepada pihak produsen.

“Oleh karena belum ada regulasi seringnya terancam oleh aparat dilapangan yang selalu dituduh melakukan penyalahgunaan,” kata dia. (*)

Read more

Local News