Sabtu, Agustus 30, 2025

Lomba Melamun, Ajang Unik Rayakan HUT RI

Share

PanenTalks, Yogyakarta – Masyarakat Yogyakarta memilih cara unik merayakan HUT ke-80 Republik Indonesia dengan menggelar lomba melamun biar tidak overthinking.

Dalam rangka memperingati Kemerdekaan RI ada masyarakat di Yogyakarta yang menggelar lomba unik. Bukan lomba panjat pinang atau balap karung, melainkan lomba melamun yang disambut antusias ratusan peserta dari berbagai kota.

Gelaran ini diinisiasi Lokanusa, bekerja sama dengan Tamasya Karsa dan Life at Kotagede, dan sukses mencuri perhatian publik—termasuk dari luar Yogyakarta seperti Jakarta, Solo, hingga Semarang.

Terinspirasi dari Jepang, Lomba Melamun Jadi Sarana Slow Living

Panitia penyelenggara, Primas Tri Jati, menyampaikan bahwa inspirasi lomba ini datang dari Jepang, di mana kontes melamun pernah diadakan beberapa tahun lalu.

“Lomba ini terinspirasi dari lomba di Jepang beberapa tahun yang lalu. Tetapi belum pernah punya kesempatan untuk melakukan lomba ini dan baru terlaksana sekarang dengan momentum 17-an,” ujar Primas di sela acara.

Terdapat tiga kategori lomba, yakni Si Paling Ekspresioni, Si Paling Bertahan Lama dan Si Paling Macak (berpenampilan paling melamun).

Melamun Bukan Malas, Tapi Ruang Untuk Menyembuhkan Diri

Primas menjelaskan bahwa lomba ini mengusung pesan penting di tengah gaya hidup serba cepat melambat bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan.

“Kita ingin bisa mewadahi orang-orang. Melamun, melambat, dan tidak melakukan apapun itu nggak apa-apa. Memberi jeda sejenak dari rutinitas bukanlah kemalasan, melainkan bagian dari menjaga kesadaran,” jelasnya.

Awalnya hanya menargetkan 20 peserta. Namun pendaftaran ternyata membludak hingga 120 orang. Ini menunjukkan bahwa banyak orang, terutama anak muda, membutuhkan ruang untuk ‘berhenti sejenak’.

Meski tidak menggunakan alat pendeteksi detak jantung seperti di Jepang, lomba ini tetap mengandalkan penilaian manual dari tim juri dan juri bayangan.

“(Jurinya dari) penggiat slow living dan psikolog. Ada beberapa juri bayangan yang ikut membantu,” kata Primas.

Penilaian dilakukan berdasarkan kemampuan peserta bertahan tanpa terganggu oleh distraksi, serta ekspresi paling menggambarkan kondisi ‘melamun total’.

“Melihat antusiasme, apabila kami dapat memfasilitasi teman-teman untuk melamun dengan aman. Lomba melamun dihadirkan di berbagai spot yang asyik untuk melamun, agar pengalaman ini bisa dinikmati di tempat dan suasana berbeda,” tambahnya.

Dari Quarter Life Crisis hingga Lari Rutinitas

Salah satu peserta, Alfina Tri (25) dari Jakarta, mengaku ikut lomba melamun karena sedang mengalami quarter life crisis.

“Saya penat banget di umur 25, seperti quarter life crisis. Akhirnya ada lomba ini, jadi ikutan deh,” ujar Alfina.

Ia juga membagikan pengalaman melamun sebagai bagian dari kesehariannya:

“Sering melamun, apalagi pas kerja. Ngelamunin kerjaan, orang tua, pacar, UMR Jogja, dan kapan saya bisa keluar dari Jogja,” candanya. (*)

Read more

Local News