Selasa, Desember 16, 2025

Pembukaan FKY 2025 Tampilkan Kekuatan Tradisi Lokal Gunungkidul

Share

PanenTalks, Yogyakarta – Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 berlangsung meriah di Lapangan Desa Logandeng, Playen, Gunungkidul. Sejak siang hari, warga telah memadati area sekitar untuk menyambut rangkaian acara yang dimulai pada Sabtu, 11 Oktober 2025, dengan menampilkan tradisi khas masyarakat agraris: Pawai Rajakaya dan Ritual Gumbregan.

Pawai Rajakaya dilepas secara resmi oleh Padmodo Anggoro Prasetyo, S.Sn., selaku Kepala Bidang Adat Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY.

Ia didampingi oleh Rosanto Bima Pratama, Programer Pawai. Rombongan bergerak dari Pasar Ternak Siyono menuju lokasi pembukaan di Lapangan Desa Logandeng pada pukul 14.30 WIB, dengan antusiasme warga yang memadati sepanjang rute pawai.

Berlandaskan pada tradisi adat Gumbregan, pawai ini menghadirkan simbol agraris yang menggambarkan keharmonisan antara manusia, hewan ternak, dan alam. Dalam pawai, turut tampil lima ekor sapi dan 31 kambing yang berasal dari seluruh wilayah DIY, lengkap dengan ubo rampe dan kupat gantung. Para peternak, komunitas desa, dan keluarga turut serta dalam prosesi ini, memperlihatkan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya.

Rangkaian pawai juga dimeriahkan oleh berbagai kelompok seni dan kontingen budaya seperti Bregada Sungu Sumbermulyo, kolaborasi Suko Rahmadi x Pasukan Ubo Rampe, Sanggar Move Art Dance, serta kontingen panji desa dari Kompetisi Panji Desa.

Perwakilan dari Dinas Kebudayaan di empat kabupaten dan satu kota di DIY juga turut serta, bersama delegasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pesisir Barat, Lampung.

Tahun ini, FKY mengangkat tema “Adoh Ratu, Cedhak Watu”, sebuah ungkapan yang merefleksikan pandangan hidup masyarakat Gunungkidul—yang jauh dari pusat kekuasaan, namun justru tumbuh dengan daya tahan dan kemandirian yang kuat.

Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti, S.T., M.T., selaku Sekretaris Daerah DIY, ia menekankan bahwa tema ini adalah, “cermin dari realitas di masyarakat.”

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kondisi geografis yang berjauhan dari pusat pemerintahan membuka ruang bagi masyarakat untuk membentuk budaya yang mandiri, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Ia menambahkan bahwa budaya berperan sebagai jembatan, “antara rakyat dan kekuasaan, antara pusat dan pinggiran, antara yang mengatur dan yang diatur.” Di tengah dialog antara kekuatan ini, budaya tetap bekerja dengan caranya sendiri yang “lembut tapi pasti.”

Senada dengan hal itu, Sri Suhartanta, S.IP., M.Si., Sekretaris Daerah Kabupaten Gunungkidul, menyampaikan pandangannya tentang pentingnya budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyatakan, “Kebudayaan bukan barang usang yang ditinggal di museum, melainkan ruh kehidupan yang harus kita hidupkan, adaptasi, dan jadikan kekuatan untuk membangun masa depan.”

Baginya, FKY menjadi wahana untuk menjaga nilai-nilai luhur agar terus tumbuh dan menjadi sumber kekuatan bangsa.

Festival FKY 2025 akan berlangsung selama sepekan, dari tanggal 11 hingga 18 Oktober, dengan Gunungkidul sebagai tuan rumah. Tema besar tahun ini adalah “adat istiadat”, menegaskan peran tradisi dalam kehidupan masyarakat.

Gunungkidul dikenal memiliki kekayaan tradisi yang tumbuh secara alami, diwariskan lintas generasi, dan masih hidup dalam praktik sosial masyarakat hingga kini.

Acara pembukaan turut diisi dengan Ritual Gumbregan, sebuah prosesi doa dan ungkapan syukur para peternak kepada Tuhan atas kesehatan dan keselamatan hewan ternak. Dalam prosesi ini, tamu undangan turut memberi makan sapi dan menuangkan air ke kendi sebagai tanda pembukaan resmi festival.

Selanjutnya, disuguhkan pertunjukan Ritus Gerak “Swasti Wijang”, sebuah karya artistik yang menyimbolkan doa dan relasi sakral antara manusia, ternak, dan alam.

Nuansa semarak berlanjut di sore hari dengan penampilan Campursari SRGK dan Dhimas Tedjo di Panggung FKY, yang turut memeriahkan suasana.

Selama festival berlangsung, berbagai program budaya akan digelar, termasuk Pameran: Gelaran Olah Rupa, yang telah dibuka sehari sebelumnya, serta program lain seperti FKY Bugar, Pasaraya Adat Ruwang Berdaya, Pawon Hajat Khasiat, FKY Rembug, dan berbagai kompetisi seperti Panji Desa, Rajakaya, dan Jurnalisme Warga.

Dengan penyelenggaraan yang menitikberatkan pada kearifan lokal, FKY 2025 menjadi panggung perayaan budaya yang tidak hanya memamerkan kekayaan tradisi, tetapi juga menunjukkan bahwa budaya hidup, tumbuh, dan menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan zaman. (*)

Read more

Local News