Selasa, Desember 16, 2025

Pemkot Yogyakarta Siap Dukung PSEL, Sampah Bisa Jadi Listrik

Share

PanenTalks, Yogyakarta – Menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah besar, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta menyatakan kesiapannya untuk ambil bagian dalam proyek Danantara, sebuah program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang bertujuan mengubah sampah menjadi listrik.

Inisiatif ini dianggap sebagai sinyal positif untuk mengatasi kebuntuan pengelolaan sampah yang belum memiliki solusi jangka panjang. Kondisi semakin mendesak karena timbunan sampah di beberapa titik terus meningkat, sementara kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan semakin terbatas.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa Pemkot akan berperan aktif jika proyek tersebut direalisasikan.

“Pemerintah Kota Yogyakarta tentu siap berkolaborasi dan bergabung dalam proyek Danantara. Selain mengurangi timbunan sampah, program ini juga bisa menghasilkan manfaat baru berupa energi listrik,” ujar Hasto, Rabu, 29 Oktober 2025.

Hasto menambahkan, pengolahan sampah menjadi energi merupakan langkah strategis di tengah meningkatnya volume sampah dan keterbatasan lahan TPA. Menurutnya, transformasi limbah menjadi sumber energi adalah pilihan realistis sekaligus berkelanjutan.

Ia juga berharap kunjungan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, beserta bupati dan wali kota ke berbagai lokasi pengolahan sampah dapat menjadi langkah nyata dalam menyelesaikan masalah sampah di DIY, termasuk Kota Yogyakarta.

“Selain memperkuat sistem pengelolaan melalui penguatan TPST, kami juga terus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah sejak dari sumbernya,” kata dia.

PSEL Jadi Harapan Baru, Tapi Ada Tantangan

Sebelumnya, Sultan HB X meninjau tiga Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di DIY. Ia menekankan perlunya seluruh bupati dan wali kota duduk bersama dan menyamakan pandangan, mengingat kompleksitas pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan melalui TPST 3R (Reuse, Reduce, Recycle).

Menurut Sultan HB X, jika proyek Danantara nantinya didanai Pemerintah Pusat, fokus utama pengelolaannya adalah produksi listrik dari sampah. Meski begitu, ia menegaskan pentingnya koordinasi dan kajian menyeluruh agar proyek besar ini tidak salah arah.

Sultan juga menekankan peran daerah, termasuk kesiapan armada pengangkut sampah yang memadai.

“Keputusan tetap di kabupaten/kota, karena sampahnya yang ada di kabupaten/kota. Tapi bagaimanapun, saya tidak mau mereka maunya sendiri-sendiri bernegosiasi dengan pemerintah juga sendiri-sendiri,” kata Sultan.

“Kita maunya pola pikir kita sama, dan saya bersedia membantu kabupaten/kota untuk kita bersama-sama menangani masalah ini, pilihan-pilihan mana yang terbaik itu kita kemukakan. Saya merasa juga bertanggung jawab, tidak mungkin saya lepas kabupaten/kota melakukan negosiasi sendiri-sendiri, dan hanya memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Saya ingin semuanya kita pecahkan bersama,” ucapnya menambahkan.

Sementara itu, Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menyampaikan optimisme Pemda DIY terhadap realisasi PSEL, meski mekanisme teknisnya masih harus dimatangkan agar tidak tumpang tindih dengan sistem yang sudah berjalan.

“Kalau semua sampah dikerjakan melalui mekanisme PSEL, berarti investasi alat dan lain-lain mungkin sudah tidak berguna lagi. Ini kedepan seperti apa, Kkami juga bicara tenaga kerjanya, karena yang RDF juga masih menggunakan tenaga kerja manual untuk memilah sampah,” ujarnya. (*)

Read more

Local News