PanenTalks, Yogyakarta – Keraton Yogyakarta menggelar International Symposium on Javanese Culture 2025 dalam rangka Peringatan Ulang Tahun Ke-36 Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono KA-10 dan GKR Hemas dalam tahun Masehi.
Kegiatan ini memiliki tema Apparatusat the Sultanate of Yogyakarta atau Aparatur Nagari Ngayogyakarta. Selain itu, menjadi ruang sekaligus kesempatan bagi para peneliti muda untuk menggali ragam dinamika aparatur dan struktur pemerintahan di Keraton Yogyakarta mampu melintasi zaman.
GKR Mangkubumi mewakili keluarga besar Keraton Yogyakarta tak menampik relevan dengan kondisi saat ini, komponen aparatur menjadi salah satu syarat berdirinya negara berdaulat. Pasang surut keberadaan aparatur Nagari Ngayogyakarta menjadi bagian dari perubahan dinamika sosial.
Perihal ini, kerja-kerja pelestarian terus dilanjutkan di Keraton Yogyakarta, termasuk Kajian-kajian terhadap sumber tertulis seperti manuskrip dipercaya dapat mengungkapkan nilai historis, maupun filosofis dari setiap detil aparatur Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Tidak hanya mengungkapnya melalui nilai historis keberadaan atau nilai filosofis atribut dan busana, keraton sebagai museum hidup bersama-sama dengan semua lapisan aparatur melangkah bersama zaman yang terus berkembang. Keraton hadir menjadi bukti kontinuitas kerja kebudayaan yang tak berhenti, sebagaimana falsafah, Manunggaling Kawula Gusti, untuk mewujudkan Yogyakarta Istimewa yang selaras dan bersatu padu, antara rakyat dan pemimpin,” kata GKR Mangkubumi.
“Semoga gelaran ini membuka ruang seluas-luasnya bagi studi keilmuan Aparatur di Kesultanan Yogyakarta, baik antropologi, filologi, sejarah, sains, politik, psikologi, pendidikan, gender, filsafat dan lain sebagainya terkait Budaya Jawa,” ucapnya.
Ketua Panitia International Symposium on Javanese Culture 2025, GKR Hayu menyampaikan, alasan dibalik tema diambil tersebut. Keraton secara khusus ingin menunjukkan aparatur nagari selama ini belum dikenal secara luas.
Oleh karenanya, lewat simposium ini dipercaya dapat semakin menyebarluaskan hasil-hasil kajian tersebut kepada berbagai lapisan masyarakat dan menjadi bukti kontinuitas terhadap kerja kebudayaan tidak stagnan.
“Aparatur nagari bukan hanya prajurit Kraton. Mungkin visual banyaknya itu tapi abdi dalem baik administratif, operasional juga merupakan aparatur nagari. Kami ingin mempelajari perjalanan waktu, ada yang hilang, ada yang baru. Misalnya Tanda Yekti, sistem peradilan hilang karena kita bergabung dengan Indonesia. Ini diulas secara mendalam,” ungkap Hayu.
Adapun beberapa jenis aparatur sudah tidak dapat dijumpai seperti bregada prajurit puteri Langenkusuma, Abdi Dalem Palawija, para penarik pajak dan cukai, serta pelaksana sistem peradilan. Namun demikian, kajian, pencatatan, serta pemaknaan mendalam terhadap setiap aparatur di Kesultanan Yogyakarta tetap penting diteliti.
Hayu menyebut, pihaknya ingin memberikan kesempatan pada peneliti muda Indonesia untuk berada satu panggung dengan peneliti internasional. Tahun ini ada 92 paper diseleksi empat reviewer dari Jerman, Prancis dan Indonesia. Dengan demikian, pembelajarannya diharapkan dapat berkontribusi terhadap kehidupan sosial, budaya, religi, dan keilmuan secara luas.
“Kami ingin memulai segala sesuatu terdokumentasikan dengan baik. Arsip kami coba rekonstruksi, seragam prajurit misalnya, seperti apa,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan oleh GKR Bendara selaku Ketua Panitia Pameran Hamong Nagari. Ini menjadi tahun ketujuh kegiatan berkaitan dengan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengkubawono Ka 10 digelar.
Menurutnya, tema aparatur nagari diangkat untuk menghadirkan sesuatu yang baru.
“Tema di keraton masih banyak yang bisa digali, masih banyak judul menarik yang bisa digali,” katanya.
Mengawali pembukaan Symposium on Javanese Culture 2025 ini, peragaan busana sebagai sajian pembuka menampilkan delapan bregada prajurit keraton dengan busana rekonstruksi busana prajurit di masa lampau. Kedelapan prajurit tersebut adalah prajurit Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero bersama Langenastra dan Nyutra. (*)
Editor : Hendrati Hapsari

