Senin, Desember 8, 2025

Ramai-ramai Populerkan Kopi Gedong Songo

Share

PanenTalks, Semarang – Keunikan lanskap Provinsi Jawa Tengah begitu mudah menemui terdapat titik-titik perkebunan salah satunya kopi.

Salah satu daerah penghasil kopi di provinsi berpenduduk sekitar 37 juta jiwa adalah daerah Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang.

“Kopi dari Gedong Songo memiliki aroma khas ada rasa manis gula aren. Cita rasa ini jarang terasa di daerah lain,” ungkap Pemilik Kedai Kopi Toples Bening, Devi Sukristianto, Selasa 20 Mei 2025.

Rasa manis tertinggal di lidah setelah menyesap kopi. Tanaman di sekitar daerah itu turut mempengaruhi karena banyak tanaman pohon aren dan pinus.

Sayangnya, keunikan citarasa belum tergali optimal sehingga belum populer di kalangan penikmat kopi. Kopi Gedong Songo baik arabika maupun robusta asal Desa Santan masih terasa sunyi berbeda dengan daerah sekitarnya. “Kopi sebagai identitas daerah belum optimal,” ungkap dia.

Dia menilai, beragam faktor mempengaruhi keotentikan kopi dari Gedong Songo. Dari sisi kapasitas belum mencukupi permintaan pasar kopi lokal. Di samping itu, kesadaran petani mempertahankan kualitas kopi.

“Pendampingan petani setelah masa panen sangat penting untuk mempertahankan rasa tersebut,” kata Devi.

Dia bermimpi, ada pihak tergerak menggali dan menjaga kualitas kopi. Pendampingan petani mulai dari memetik biji kopi berwarna merah, mencuci dan menjemur dengan benar.

“Mempertahankan kualitas kopi akan menaikkan harga jual,” kata dia.

Pemilik Kedai Kopi Toples Bening, Devi Sukristianto sedang meracik kopi lokal produksi Jawa Tengah. Hendrati Hapsari/ PanenTalks

Dalam pandangannya, secara umum produksi kopi di Jateng sangat melimpah namun tidak konsisten memroses. Alhasil, harga komoditas jatuh dan rasa kopi berubah.

Devi adalah salah satu warung menyediakan kopi lokal. Berlokasi Kopi Toples Bening, Jln Soegijapranata Ngampin Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang menyediakan beragam kopi dari sekitar Jawa Tengah.

Meliputi Gunung Telomoyo, Gunung Kelir, Temanggung. Kopi daerah lain juga bisa icip-icip seperti Ijen, Bajawa, Toraja, Kintamani, Aceh, Talaga Bodas, Gunung Halu jJbar.

Pelintas jalur darat Yogyakarta-Semarang akan menemukan warung kopi di area penjaja serabi. Warung khas dominasi hijau dengan aroma biji kopi sangrai menjadi daya tarik pengguna kendaraan rehat sejenak.

Selain mengenalkan kopi lokal, Devi juga ingin mengangkat kesejahteraan petani. “Membeli langsung dari petanu dengan harga lebih tinggi dari tengkulak sehingga petani bisa langsung merasakan manfaat dari panen kopi,” kata dia.

Permintaan kopi selalu tinggi tapi suplai terbatas. Namun begitu, dia juga berpesan kepada petani selalu mempertahankan kualitas kopi. Konsisten menjadi persoalan para petani sehingga edukasi sangat penting.

“Saya roasting (kopi) sendiri sehingga tahu kualitas kopi. Jika petani asal-asalan (mengolah pasca panen) tentu saja tidak saya lanjutkan memroses karena pelanggan pasti komplain,” kata dia sembari menyebut para pelanggan adalah penikmat kopi loyal. (*)

Read more

Local News