Selasa, Desember 16, 2025

Sekolah Rakyat di Jateng Optimis Bisa Kurangi Kemiskinan

Share

PanenTalks, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis sekolah rakyat menjadi salah satu cara mengurangi kemiskinan.

“Keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) di Jawa Tengah sangat tepat untuk mengurangi angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem di wilayanya,” kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Rabu 29 Oktober 2025.

Dia melanjutkan, kata dia, sudah ada 14 rintisan sekolah rakyat tersebar di 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Pembangunan sekolah rakyat di Jateng ini dinilai tepat karena untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Selain itu untuk memperbanyak sekolah vokasi.

“Karena Jawa Tengah itu proyeksinya sekarang adalah investasi padat karya,” kata dia.

Sebagai informasi, SRT 45 Semarang saat ini menempati gedung sementara di Kompleks Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBVP), Jalan Brigjen Sudiarto Kota Semarang. Sekolah tersebut merupakan satu dari 14 rintisan sekolah rakyat tahap 1 sudah beroperasi di Jawa Tengah. Sementara untuk sekolah rakyat tahap 2 di Jawa Tengah masih disiapkan dan akan beroperasi tahun 2026 di 11 kabupaten/kota.

Selain sekolah rakyat, Pemprov Jateng juga melakukan berbagai upaya pengentasan kemiskinan melalui sektor pendidikan. Di antaranya memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jateng di tiga tempat (Kota Semarang, Pati, dan Purbalingga) dan program Sekolah Kemitraan. Sekolah itu untuk memfasilitasi anak-anak dari keluarga miskin dan kurang mampu.

Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf mengatakan, gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang tersebut merupakan gedung sementara. Gedung permanen akan mulai dibangun tahun ini dan akan menampung sekitar 1.000 siswa dari SD-SMP-SMA.

“Lahannya nanti yang menyiapkan Wali Kota, pembangunan dilakukan dengan APBN. Luasnya nanti sekitar 7-8 hektare,” katanya.

Areal Sekolah Rakyat Terintegrasi 45 Semarang akan memiliki fasilitas lengkap. Mulai dari ruang kelas, asrama siswa, asrama guru, perpustakaan, lapangan olahraga, aula, dan tempat ekstrakurikuler.

“Jadi selain anak-anaknya sekolah, orangtua atau wali siswa juga akan mengikuti program pemberdayaan, seperti menerima bansos dan pelatihan,” ungkap dia. (*)

Read more

Local News