Sabtu, Agustus 30, 2025

Sleman Culture Festival 2025 Hadirkan Perpaduan Budaya, Hiburan, dan Kembang Api Spektakuler

Share

PanenTalks, Sleman – Warga Sleman dan sekitarnya mendapat suguhan pertunjukan budaya yang semarak akhir pekan ini. Gelaran Sleman Culture Festival (SCF) 2025 berlangsung pada 22–23 Agustus di Lapangan Denggung, menghadirkan perpaduan unik antara kearifan lokal, hiburan rakyat, bazar UMKM, hingga pesta kembang api perdamaian dari Jepang.

SCF 2025 digelar Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan, berkolaborasi dengan Yayasan Sakuranesia Society. Acara ini dirancang sebagai festival budaya khas Sleman yang merangkul seluruh elemen masyarakat, dari pelaku seni hingga pelaku usaha lokal.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Ishadi Zayid, menyebut festival ini sebagai ajang untuk menampilkan kembali kekayaan budaya Sleman kepada masyarakat secara langsung.

“Ini adalah sebuah event yang menggabungkan kebudayaan khas Sleman melalui Festival Upacara Adat, Pacuan Kuda kepang, penampilan dari siswa-siswi Sleman dan ditutup dengan kemeriahan kembang api yang menggambarkan pencapaian mimpi anak-anak,” kata Ishadi.

Ragam Kegiatan Budaya dan UMKM

Selama dua hari penyelenggaraan, pengunjung menyaksikan Festival Upacara Adat yang diikuti oleh 17 kapanewon di Sleman. Festival digelar dalam dua sesi: sembilan kontingen tampil pada Jumat, 22 Agustus 2025, dan delapan kontingen lainnya pada Sabtu, 23 Agustus 2025.

Setiap kontingen menampilkan tradisi unik dari wilayahnya, seperti Merti Dusun, Suran, dan Pasok Blondong dari Banyuraden.

“Setiap kelompok berisi minimal 30 orang, sehingga total peserta mencapai ratusan pelaku budaya. Mereka membawakan ragam upacara khas daerahnya, dari Merti Dusun hingga Pasok Blondong dari Banyuraden,” jelas Ishadi.

Selain pertunjukan budaya, masyarakat mengunjungi bazar UMKM yang digelar di jogging track sisi utara Lapangan Denggung. Bazar ini menyuguhkan beragam produk lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga busana tradisional.

Kembang Api Perdamaian, Puncak SCF 2025

Puncak SCF berlangsung pada malam Sabtu ketika langit Sleman berhiaskan Heiwa Hanabi atau Kembang Api Perdamaian, yang diluncurkan dari rooftop Sleman City Hall mulai pukul 21.15 WIB.

Pertunjukan ini merupakan hasil gagasan dari pendiri Heiwa Matsuri, Mayu Ogawa, serta pendiri Mirai Gift, Masanari Aso dan Yudai Ishikawa. Kembang api ini menjadi simbol perayaan kemerdekaan dalam balutan pesan damai.

“Berawal dari ide pentas kembang api, lalu kita kemas jadi simbol perayaan kemerdekaan. Inilah cara Sleman menunjukkan bahwa budaya dan modernitas bisa berjalan beriringan,” kata Ishadi.

Dukungan kuat terhadap program ini juga datang dari Yayasan Sakuranesia Society. Pendiri yayasan, Tomomi Sakura Ijuin, menjelaskan bahwa pertunjukan ini membawa misi untuk menyampaikan pesan persahabatan antarbangsa.

“Melalui perayaan cahaya ini, kami berharap masyarakat Indonesia, Jepang, dan seluruh dunia dapat terus menenun ikatan persahabatan dan perdamaian. Puncak dari Heiwa Hanabi adalah ketika doa dan harapan dituangkan dalam kembang api serta mimpi anak-anak membumbung tinggi ke langit malam,” kata Sakura.

Dukungan dari Jepang dan Harapan untuk Generasi Muda

Sebanyak 60 tamu dari Jepang dijadwalkan hadir dalam SCF 2025. Mereka akan terlibat dalam tiga kegiatan utama, yaitu pertukaran budaya dengan santri di Pesantren Annasyath, pemberian kembang api harapan, serta mengikuti wisata budaya di kawasan Yogyakarta.

Tak hanya menyuguhkan hiburan, SCF 2025 menjadi ruang edukasi dan kebersamaan bagi warga Sleman dari berbagai usia.

“Sebagai bentuk dukungan nyata, kami juga menyerahkan satu set lengkap alat musik marching band beserta kostumnya, serta mendukung program pelatihan secara berkelanjutan selama satu tahun penuh bagi anak-anak,” ujarnya.

SCF 2025 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa dikemas secara kreatif dan inklusif. Festival ini bukan hanya menjadi hiburan, tapi juga panggung kebersamaan, pembelajaran, dan harapan bagi masa depan yang harmonis. (*)

Read more

Local News