Selasa, Desember 16, 2025

Tantangan Efisiensi Anggaran Tak Halangi Menbud Dorong Perkembangan Museum di Indonesia

Share

PanenTalks, Yogyakarta – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan museum-museum di Indonesia meskipun menghadapi kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah.

Menurut data terkini, Indonesia memiliki 481 museum yang tercatat dalam Registrasi Nasional Museum. Meski demikian, revitalisasi museum yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dilakukan secara selektif dan bertahap.

“Kita melakukan revitalisasi secara bertahap dan terbatas, bekerja sama dengan berbagai pihak. Museum tidak boleh hanya bergantung pada APBN, tetapi harus menjadi ekosistem yang hidup dengan kolaborasi lintas sektor,” ungkap Fadli Zon.

Fadli Zon menjelaskan bahwa fokus revitalisasi akan diarahkan pada museum-museum yang dikelola oleh Museum dan Cagar Budaya (MCB) Kementerian Kebudayaan, terutama di wilayah Yogyakarta.

Mengingat keterbatasan anggaran, Menbud mendorong penerapan skema kolaborasi lintas sektor seperti Public Private Partnership (PPP) agar pelestarian sejarah dan peningkatan daya tarik museum dapat terus berjalan.

Kementerian Kebudayaan telah membentuk dewan pengarah yang bertugas menggalang dukungan dari sektor swasta, filantropi, dan masyarakat sipil. Ini dimaksudkan agar museum tidak hanya bergantung pada dana pemerintah, tetapi dapat berkembang melalui partisipasi berbagai pihak.

“Pemajuan kebudayaan dan revitalisasi museum memang memerlukan kerja sama lintas pihak, tidak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah,” tambah Fadli Zon. “Perlu ada dukungan sumber daya dan inovasi dari berbagai pihak tanpa membebani keuangan negara,” tambahnya.

Menbud juga menekankan pentingnya transformasi peran museum agar tidak sekadar menjadi penjaga sejarah, tetapi juga menjadi jembatan menuju masa depan. Dalam era digital yang serba cepat, museum perlu beradaptasi dan menawarkan pengalaman relevan, khususnya bagi generasi muda.

Fadli Zon menargetkan museum dapat menjadi ruang edukasi dan inovasi yang modern, dengan penggunaan teknologi interaktif dan manajemen kunjungan yang baik, sehingga mampu menarik hingga 20.000 pengunjung per hari.

“Bagaimana menjadikannya sebagai ruang edukasi, ruang belajar yang hidup, ruang bertemu gagasan, dan titik temu berbagai ekspresi budaya,” ujarnya.

Meski ada dorongan untuk menambah jumlah museum, pendanaan pengembangan museum menurut Fadli Zon tidak harus sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kita juga menggerakkan bagi swasta, korporasi, dan antara lain juga individu-individu, keluarga-keluarga misalnya, kalau ada keluarga dari pahlawan nasional kalau masih ada peninggalannya,” ujarnya.

Sebagai contoh, ia menyebut rumah pahlawan nasional Nani Wartabone dari Gorontalo yang tengah didorong menjadi museum nasional oleh Kementerian Kebudayaan untuk merekam perjuangan tokoh kemerdekaan tersebut.

Langkah seperti ini dianggap penting bukan hanya untuk pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang dekat dengan masyarakat lokal dan membangun hubungan emosional generasi muda dengan tokoh bangsa.

Selain itu, Fadli Zon juga menyoroti pentingnya museum yang mengabadikan karya seniman, budayawan, dan tokoh musik Indonesia, yang memiliki daya tarik besar bagi generasi muda.

“Jadi banyak sekali potensinya. Kalau bisa selain pahlawan-pahlawan nasional, tokoh-tokoh seniman, budayawan itu punya, gitu ya. Ada misalnya tadi ada Adi Bing Slamet kan? Misalnya Bing Slamet ada museumnya, ya ini sedang dibuat juga. Rhoma Irama itu, harusnya Soneta itu jadi museum karena banyak sekali dan banyak lagi,” katanya.

Dengan langkah-langkah tersebut, Kementerian Kebudayaan berharap museum di Indonesia tidak hanya menjadi tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga ruang hidup yang menginspirasi dan menghubungkan masa lalu dengan masa depan. (*)

Read more

Local News