PanenTalks, Yogyakarta – Permasalahan sampah organik terus menjadi perhatian nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 33,9 juta ton sampah setiap tahun. Lebih dari separuhnya adalah sampah organik dari rumah tangga. Jika tidak ditangani secara tepat, limbah ini bisa menghasilkan gas metana yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
Menanggapi kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa menghadirkan WormiBox, sebuah alat budidaya cacing tanah yang dikembangkan berbasis Internet of Things (IoT). WormiBox bertujuan mengubah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik yang bermanfaat secara ekonomi dan ekologis.
Ketua tim pengembang, Azkal Anas Ilmawan (Teknik Nuklir 2022), menjelaskan bahwa alat ini dirancang untuk mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam mengelola limbah sehari-hari.
“Sampah rumah tangga jumlahnya terus meningkat, sementara fasilitas pengelolaan terpusat semakin terbatas. WormiBox memberi peluang agar masyarakat dapat mengelola sampah sendiri sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat,” kata Azkal, Senin, 13 Oktober 2025.
WormiBox saat ini tengah dalam tahap pengembangan lanjutan yang mengintegrasikan teknologi IoT. Dengan sistem ini, pengguna nantinya bisa memantau kondisi unit secara real-time.
“Output yang ada di alat kami nanti akan langsung bisa dipantau melalui HP atau website kemudian bisa masuk ke akun dan akan dipantau secara real-time, bisa dilihat secara berkala,” ujar dia.
Proyek ini dikerjakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) tahun 2025, melibatkan mahasiswa dari berbagai jurusan.
Mereka adalah Fikriansyah Ridwan Pratama (Teknik Fisika 2023), Vidhyazputri Belva Aqila (Akuntansi 2023), Maulana Iqbal Pambudi (Ilmu dan Industri Peternakan 2023), serta Maureen Arsa Sanda Cantika (Sistem Informasi Geografis 2022). Tim ini juga didampingi oleh dosen pembimbing, Dr. Ir. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP., dari Fakultas Teknik.
Secara teknis, WormiBox bekerja dengan memantau suhu dan kelembaban secara otomatis demi menjaga lingkungan optimal bagi produktivitas cacing. Proses ini memungkinkan sampah organik terurai secara efisien, menghasilkan dua produk utama: pupuk organik cair dan kascing (vermicompost).
“Konsumen bukan hanya mendapat manfaat untuk mendekompost sampah rumah tangga tetapi mereka juga mendapatkan produk lanjutan yang dapat bermanfaat bagi pengelolaan tanaman di rumah mereka masing-masing,” kata Iqbal, salah satu anggota tim.
Dipasarkan dengan harga Rp 699.999, WormiBox menyasar berbagai segmen, mulai dari peternak cacing, ibu rumah tangga, hingga komunitas pecinta lingkungan. Dengan desain yang kompak dan fitur digital, alat ini menjadi alternatif ramah teknologi yang praktis untuk penggunaan di rumah.
Melalui WormiBox, para mahasiswa menunjukkan bahwa solusi atas krisis lingkungan tidak selalu harus datang dari hal-hal besar.
Inovasi sederhana namun tepat guna seperti ini dapat menjadi tonggak perubahan menuju pengelolaan sampah yang lebih bijak dan berkelanjutan. (*)

