PanenTalks, Bantul – Tim Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menciptakan teknologi pemilah buah otomatis. Teknologi atau alat ini berbasis lengan pneumatik yang bekerja cepat, akurat, dan terkomputerisasi.
Tim ini terdiri dari Slamet Riyadi (Prodi Teknik Informatika), Tony Khristanto Hariadi (Prodi Profesi Insinyur), Indira Prabasari (Prodi Agroteknologi), Nafi Ananda Utama (Prodi Agroteknologi), serta Hasan Zidni (alumni Prodi Teknik Elektro).
Keberhasilan ini menjadi jawaban dari tantangan ekspor buah saat ini. Manggis, salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, membutuhkan standar kualitas tinggi agar bisa menembus pasar global. Namun hingga kini, proses pemilahannya masih minim dukungan teknologi otomatisasi. Akibatnya, ketidakteraturan dalam pemilahan sering menurunkan kualitas ekspor.
“Di pasar internasional, buah manggis harus memenuhi kriteria ketat, baik ukuran maupun tingkat kematangan. Hal itu mendorong kami menghadirkan solusi berbasis teknologi agar proses pemilahan lebih efisien dan akurat,” kata Slamet Riyadi.
Alat ini bekerja dengan sistem conveyor belt yang mengantarkan manggis ke sebuah chamber. Di dalamnya terdapat dua kamera yang memotret buah dari sisi atas dan samping untuk mengukur diameter serta mendeteksi tingkat kematangan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
“Setelah proses pengukuran di chamber, buah akan otomatis tersortir menggunakan lengan pneumatik yang kami patenkan. Lengan ini mendorong buah sesuai kategorinya, besar, sedang, atau kecil,” ujar Slamet yang juga menjabat Wakil Rektor UMY Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan.
Bisa Untuk Bermacam Jenis Buah
Sementara itu, Tony Khristanto Hariadi menambahkan, sistem ini bersifat fleksibel. Kriteria pemilahan dapat kita program ulang melalui komputer. Dengan begitu, teknologi ini bisa untuk mengukur buah lainnya. Tidak hanya manggis, tetapi juga jeruk, apel, atau komoditas ekspor lainnya.
“Chamber bisa kita atur sesuai kebutuhan. Prinsip kerjanya sama, tinggal menyesuaikan kriteria buah yang akan kita pilah,” jelasnya.
Dalam uji coba skala laboratorium, alat ini menunjukkan hasil menjanjikan dengan akurasi lebih dari 90 persen. Khususnya pada pengukuran diameter buah. Deteksi kematangan menggunakan metode Support Vector Machine (SVM). Sementara ukuran diameter dengan teknologi pengolahan citra digital.
“Akurasinya cukup bagus, terutama untuk diameter sudah di atas 90 persen,” tutur Tony.
Ke depan, tim berharap dapat melakukan uji coba lapangan untuk melihat performa alat secara lebih komprehensif. Sekaligus membuka peluang produksi massal agar dapat bermanfaat untuk pelaku industri buah dan sektor ekspor. (*)