Rabu, Desember 10, 2025

UMKM Kampung Singkong Olah Hingga 10 Ton Per Hari

Share

PanenTalks, Salatiga – Puluhan UMKM di Kampung Singkong, di Kota Salatiga, mampu mengolah 8-10 ton singkong per hari menjadi berbagai jenis olahan pangan.

Pelaku UMKM olahan singkong, Toni Anandya Wicaksono mengharapkan, pemerintah pusat, provinsi dan kota bisa menjadikan Kampung Singkong sebagai daya tarik wisata.

“Harapan ke depan tentunya dengan kehadiran sehingga mengangkat perekonomian dan pariwisata Kota Salatiga,” ujar Ketua Paguyuban Kampung Singkong itu.

Dia mengatakan di sela kunjungan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Kampung Singkong, Jumat, 7 November 2025.

Toni menjelaskan, Kampung Singkong tercetus pada tahun 2018. Berawal dari banyaknya UMKM olahan singkong di Kelurahan Ledok. UMKM terus berkembang seiring dengan program pemberdayaan UMKM dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kota Salatiga.

Sejarah UMKM olahan singkong di tempat itu berawal dari Gethuk Satu Rasa atau lebih dikenal dengan Gethuk Kethek melegenda. Dari situ bermunculan UMKM olahan singkong lainnya, termasuk Argotelo Kreasi Indonesia, Singkong Keju D-9, Cassava, dan lainnya.

“Awalnya kita ada 16 UMKM olahan singkong tapi saat ini kita ada 38 UMKM olahan singkong, kemudian tercetus bagaimana kita membantuk Kampung Singkong,” jelasnya.

Dalam sehari, 38 UMKM olahan singkong tersebut dapat mengolah sekitar 8-10 ton singkong dengan berbagai varian produk. Meliputi singkong keju, gethuk, keripik, olahan singkong beku (frozen), tepung mocaf, produk wisata, hingga batik bermotif singkong. Omzetnya dalam satu tahun total mencapai sekitar Rp25 Miliar.

Penjualannya secara langsung dengan melayani wisatawan ke kampung tersebut hingga pengiriman ke Jabodetabek dan Bali. Bahkan, untuk Argotelo Kreasi Indonesia sendiri sudah ekspor ke Australia, Hongkong, dan Singapura.

“Sekali ekspor 1 ton, kebanyakan singkong frozen,” ungkapnya.

Toni menambahkan, bahan baku singkong mengambil lebih banyak petani singkong di wilayah pegunungan dan lereng pegunungan. Seperti Salatiga, Wonosobo, Magelang, Batang, dan Temanggung.

Hal itu karena produksi singkong di Salatiga sendiri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi.

“Harapannya pemerintah bisa memberikan masukan dan solusi kepada petani atau stakeholder lainnya untuk bisa memberikan bahan baku terbaik,” jelasnya.

Selain sebagai sentra produksi olahan singkong, untuk menjadi destinasi wisata, Kampung Singkong juga menggelar Festival Singkong setahun sekali. Festival tersebut dapat masuk dalam kalender event atau wisata nasional sehingga lebih banyak pengunjung datang.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan komitmen Pemprov Jateng untuk mendukung pelaku UMKM di wilayahnya.

Menurutnya, UMKM menjadi tulang punggung perekonomian di Jawa Tengah. Dari UMKM telah lahir banyak lapangan pekerjaan, sebagai contoh di Kampung Singkong sendiri telah menyerap tenaga kerja sampai 211 orang.

“UMKM ini harus kita dukung penuh untuk berkembang dan bertumbuh,” kata dia.

Upaya dari Pemprov meliputi bantuan permodalan, serta menyiapkan tempat yang dapat dipakai untuk outlet jualan. Pelatihan-pelatihan membidik UMKM agar naik kelas. (*)

Read more

Local News