Senin, Desember 8, 2025

Waspada! Gerak Tipis Kerak Bumi Ancam Gempa Dahsyat

Share

PanenTalks, Denpasar – Sebuah fakta mengejutkan mengenai potensi bencana geofisika diungkap dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam di Denpasar, Sabtu (4/10).

Para pewarta di Bali diingatkan pergerakan kerak bumi yang hanya 7 milimeter per tahun memiliki potensi memicu gempa bumi dahsyat.

Pelatihan yang diinisiasi oleh Jawa Pos TV Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ini diikuti lebih dari 50 jurnalis dan bertujuan mendorong praktik “Jurnalisme Solutif”.”

Gempa bumi tidak menunggu waktu, kalau sudah waktunya, ya, maka akan terjadi,” tegas Ni Luh Desi Purnami dari Stasiun Geofisika Denpasar.

Ia menjelaskan, pergerakan lempeng yang sangat tipis ini didorong oleh arus konveksi di atas inti bumi, yang membuat lempeng tempat kita berpijak terus bergerak.

Direktur Jawa Pos TV Bali, Ibnu Yunianto, menekankan tugas jurnalis bukan hanya mengabarkan musibah, melainkan juga menyajikan informasi yang penting bagi korban terdampak dan solusi bagi regulator atau masyarakat yang ingin membantu.

Para narasumber juga memaparkan solusi konkret terkait isu lingkungan dan mitigasi cuaca.Sampah Tuntas di Dapur dengan “Teba Modern”.

Kadis Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Rentin, memaparkan, masalah sampah bisa tuntas di tingkat rumah tangga, sesuai Peraturan Gubernur Bali 47/2019.

Solusi yang ditawarkan adalah konsep “teba modern”—lubang khusus sedalam 1,5 hingga 2 meter di halaman untuk menampung seluruh sampah organik, mengubahnya menjadi pupuk. Dengan cara ini,

Rentin berharap sampah organik tidak perlu lagi keluar dari rumah.Ancaman Ganda Pemicu Banjir Bandang Bali

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengungkap analisis di balik banjir bandang di Bali beberapa waktu lalu. Ia menegaskan, bencana tidak disebabkan faktor tunggal, melainkan “kerentanan bertemu ancaman”.

Bencana tersebut dipicu oleh kombinasi fatal: curah hujan mencapai 390 mm (dua kali batas ekstrem 150 mm per hari) yang bertemu dengan gelombang pasang laut lebih dari 2 meter.

Gelombang pasang inilah yang menghambat aliran sungai ke laut, memperparah dampak banjir.BMKG: Bali Punya 20 Zona Musim

Kadek Setiya Wati (Balai Besar BMKG) dan I Made Dwi Wiratmaja (Stasiun Klimatologi) turut membekali jurnalis dengan pemahaman dasar. Bali, menurut data BMKG, memiliki total 20 Zona Musim.

Kadek mengingatkan jurnalis agar tidak keliru membedakan cuaca (kondisi harian) dengan iklim (rata-rata jangka panjang).

“Angin kencang 45 kilometer per jam sudah masuk cuaca ekstrem. Kalau puting beliung itu, ada pusaran dari dasar awan cumulonimbus,” jelasnya, memberikan panduan pelaporan yang akurat.

Pelatihan ini menjadi modal penting bagi jurnalis di Bali untuk bertransformasi, dari sekadar penyampai kabar duka menjadi pilar informasi yang membangun kesadaran dan ketahanan masyarakat terhadap bencana. (*)

Read more

Local News