Selasa, Desember 16, 2025

Waspadai Dampak Modifikasi Cuaca terhadap Tanaman Sayur!

Share

PanenTalks, Jakarta – Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengendalikan cuaca melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) mendapat perhatian dari kalangan petani urban. Mereka khawatir perubahan pola hujan akibat program tersebut berdampak pada lahan pertanian kota yang sensitif terhadap kondisi kelembapan dan curah hujan.

Salah satu petani urban di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Latif, mengatakan curah hujan yang tidak menentu belakangan ini telah memengaruhi aktivitas tanam dan pengolahan kompos di kebun warga.

“Hujan, apalagi hujan ekstrem di Jakarta, sangat berpengaruh terhadap teman-teman petani urban. Banyak lahan kami yang awalnya bukan untuk pertanian, seperti di tepi sungai atau tanah miring,” ujarnya, Jumat (7/11).

Menurut Latif, kelembapan tinggi akibat hujan terus-menerus memperlambat proses pengomposan, sementara suhu yang terlalu kering membuat mikroorganisme mati sehingga nutrisi dalam kompos berkurang.
“Kalau terlalu basah, pengomposan jadi lama. Tapi kalau terlalu kering, hasilnya kurang bagus,” katanya.

Sebagian besar petani urban di wilayah tersebut menanam sayuran daun seperti kangkung, bayam, dan sawi. Tanaman-tanaman ini sangat bergantung pada stabilitas cuaca, sehingga perubahan mendadak dapat menyebabkan batang patah, daun rusak, bahkan memicu serangan hama.

Untuk menjaga kesuburan tanah, komunitas petani di RW 6 Cipedak kini mengolah sampah organik rumah tangga menjadi kompos. Hasilnya digunakan kembali untuk kebun warga agar tidak bergantung pada pupuk kimia.
“Kami berusaha menutup siklusnya sendiri. Sampah dapur kami olah jadi kompos, lalu dipakai untuk menanam sayur. Jadi hasilnya kembali ke masyarakat,” tutur Latif.

Ia berharap pemerintah dapat memperhitungkan dampak modifikasi cuaca terhadap pertanian perkotaan, yang kini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Jakarta.
“Kami tidak tahu teknis modifikasi cuaca seperti apa, tapi harapannya kebijakan ini tidak hanya melihat dari sisi teknis, melainkan juga dari sisi masyarakat yang terdampak, termasuk petani kota,” katanya.

Latif menambahkan, sinergi antara kebijakan pengendalian cuaca dan program lingkungan masyarakat dapat membantu mitigasi perubahan iklim di perkotaan. Upaya seperti pengolahan kompos dan kebun komunitas menurutnya perlu terus didukung agar pertanian urban tetap produktif di tengah perubahan iklim.

Read more

Local News