Sabtu, Agustus 30, 2025

Strategi DIY Perkuat Ketahanan Pangan dan Stabilitas Ekonomi

Share

PanenTalks, Yogyakarta – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) terus berupaya memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan ekonomi global. Dalam gelaran Yogyakarta Economic Symposium (YES) 2025 yang berlangsung di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center pada Selasa, 26 Agustus 2025, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X memaparkan lima strategi utama yang tengah dijalankan.

Kelima strategi tersebut meliputi penguatan produksi pangan, percepatan digitalisasi sektor pertanian, peningkatan investasi, modernisasi sistem logistik, serta sinergi antarlembaga.

“Kelima strategi ini menjadi pedoman dalam merancang kebijakan ketahanan pangan yang efektif dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” kata Paku Alam X.

“Melalui kolaborasi, kita dapat menciptakan inovasi kebijakan untuk memastikan ketahanan pangan DIY yang berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.

Tantangan Ekonomi Global dan Regional

Dalam paparannya, Paku Alam X juga menyoroti berbagai tantangan yang masih dihadapi DIY, termasuk dampak dari dinamika global, perubahan iklim, hingga ketidakpastian geopolitik. Semua faktor ini, menurutnya, turut mempengaruhi kestabilan harga, distribusi pangan, dan daya beli masyarakat.

Namun demikian, kolaborasi antara berbagai pihak telah memungkinkan DIY untuk tetap menjaga stabilitas perekonomian. Ia mencatat bahwa pada triwulan II tahun 2025, pertumbuhan ekonomi DIY tercatat mencapai 5,49 persen (yoy), tertinggi di wilayah Jawa.

“Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta pariwisata yang terus berkembang,” tutur dia lebih lanjut.

“Pertumbuhan ekonomi DIY juga didorong oleh ketahanan pangan sebagai dasar kesejahteraan dan stabilitas sosial ekonomi, yang mengurangi dampak fluktuasi harga dan ketidakpastian iklim,” kata Wakil Gubernur.

Salah satu program unggulan yang disebut adalah Lumbung Mataraman yang fokus pada penguatan pertanian lokal serta investasi dalam teknologi dan logistik. Menurut Paku Alam X, sinergi yang kuat diperlukan agar program tersebut dapat menciptakan sistem pangan yang tangguh dan kompetitif.

“Saya berharap Yogyakarta Economic Symposium 2025 ini menjadi forum strategis yang melahirkan ide-ide inovatif, sinergi antar-pihak, dan komitmen bersama untuk mendorong investasi ketahanan pangan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah nyata menuju Yogyakarta yang sejahtera, inklusif, dan berdaya saing global,” ujarnya.

Peran BI dan Tren Pertumbuhan Ekonomi DIY

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi DIY pada Triwulan II 2025 mencapai 5,49 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dari rata-rata regional Jawa dan nasional.

“Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi DIY didorong oleh komponen konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto. Tentu momentum libur sekolah dan banyak cuti bersama kemarin mendorong pertumbuhan kinerja konsumsi rumah tangga tetap positif,” kata Darmadi.

“Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi DIY pada Triwulan II 2025 utamanya didorong oleh lapangan usaha konstruksi, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta industri pengolahan,” ucap dia.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun konsumsi tumbuh, inflasi di DIY tetap terkendali dan berada dalam sasaran nasional.

“Capaian ini tentu tidak terlepas dari sinergi berbagai upaya pengendalian inflasi oleh TPID DIY dalam program gerakan nasional pengendalian inflasi pangan yang semakin solid,” katanya.

Darmadi, lebih lanjut, mengatakan, “Ke depan Bank Indonesia memprakirakan inflasi DIY terus terjaga pada kisaran targetnya 2,5 plus minus 1 persen. Kondisi tersebut didukung oleh upaya TPID DIY dalam kerangka 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.”

Tantangan Global dan Peran YES 2025

Sri Darmadi juga mengingatkan bahwa tantangan global seperti ketegangan geopolitik dan disrupsi rantai pasok tetap harus diwaspadai. Di tingkat lokal, tantangan lain adalah alih fungsi lahan pertanian serta peningkatan daya saing ekspor.

“Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan implementasi strategi dan perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Yogyakarta Economic Symposium 2025 hadir sebagai wadah untuk melakukan diskusi ekonomi terkini di lingkup praktisi, akademisi maupun pemangku kebijakan di DIY,” kata Darmadi.

YES 2025 hadir sebagai pengganti Jogja Economic Forum dan menjadi forum strategis berbasis riset. Salah satu bentuk konkretnya adalah Call for Paper yang melibatkan 153 proposal dari kalangan mahasiswa maupun umum.

“Paper yang terkumpul dalam Call for Paper YES 2025 mengkaji aspek penting dalam pembangunan ekonomi DIY. Masing-masing menawarkan perspektif yang unik namun saling melengkapi. Beberapa penelitian mengangkat topik mengenai optimalisasi industri pangan untuk ekonomi produktif dan inflasi yang terjaga,” tutur Darmadi. (*)

Read more

Local News